This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Search This Blog

Thursday, 7 April 2011

KAJIAN FEMINISME CERPEN PEMETIK AIR MATA KARYA SENO GUMIRA AJIDARMA (SEBUAH GAMBARAN KETIDAKBERDAYAAN PEREMPUAN)


Pemetik Air Mata
(Sebuah Gambaran Ketidakberdayaan Perempuan)


  Oleh
Ita Sartika

Pemetik air mata merupakan sebuah kisah yang bercerita tentang seorang perempuan yang bernama Sandra. Ia lahir dari seorang wanita yang memiliki pekerjaan sebagai wanita tuna susila atau yang sering kita sebut sebagai pelacur. Ibunya memang bekerja dengan menjual kemolekan tubuhnya, tetapi dibalik itu semua sesungguhnya ia sangat rapuh, hal itu terlihat dari seringnya ia menangis secara diam-diam di malam hari. Oleh karena itu, dulu sewaktu Sandra masih kecil, ia selalu berharap agar peri-peri pemetik air mata itu muncul untuk memetik kesedihan yang dialami oleh ibunya. Hanya saja, dikarenakan peri-peri itu tidak kunjung datang disetiap harapannya, maka kini ia tidak percaya lagi akan cerita mengenai peri-peri tersebut.
Lain halnya dengan anak semata wayangnya, Bita. Ia percaya akan cerita peri-peri pemetik air mata itu. Bahkan Sandra juga mendengar cerita tentang pencuri sarang walet yang menemukan koloni peri dan membawa sekarung kristal air mata yang kemudian dijualnya secara eceran dari anaknya itu. Bita adalah anak perempuan dari suami yang telah menjadikannya sebagai istri simpanan sekarang ini.  Ia memang tidak pernah menginginkan dijadikan sebagai istri simpanan, lagipula tidak ada seorang pun perempuan di dunia ini yang ingin dijadikan sebagai istri simpanan,  tapi apa daya dia sudah terlanjur cinta dan bagaimanapun suaminya memang laki-laki penuh perhatian yang pernah dikenalnya. Selain itu dia juga merasa lebih beruntung dari ibunya yang hanya seorang pelacur yang digerogoti penyakit kelamin saat tua dan ditemukan mati tergorok di losemen murahan.
Berdasarkan sinopsis di atas, jelas terlihat sekali adanya ketidakberdayaan perempuan dalam menghadapi berbagai masalah yang ada di dunia ini. Sehingga mereka mengambil jalan singkat untuk menghadapi masalah yang mereka alami itu. Dimana dalam cerpen pemetik air mata ini ketidakberdayaan tersebut dialami oleh dua tokoh wanita yakni Sandra dan mamahnya. Sandra tidakberdaya dalam menghadapi masalah percintaan, ia mencintai laki-laki yang telah beristri, karena ia tidak bedaya dalam menghadapi masalahnya itu maka ia mengambil jalan singkat rela dijadikan istri simpanan oleh laki-laki yang dicintainya. sedangkan Mamahnya tidak berdaya dalam menghadapi masalah keungan, sehingga ia mengambil jalan singkat dengan menjual kemolekan tubuhnya untuk mendapatkan uang. Berdasarkan hal tersebut, cerpen ‘Pemetik Air Mata” ini sangat cocok dikaji dengan menggunakan kajian sastra feminisme, yang mana kajian ini menitikberatkan pada citraan serta streotipe wanita dalam karya sastra. 
Arti sederhana kajian sastra feminis adalah pengkaji memandang sastra dengan kesadaran khusus, kesadaran bahwa ada jenis kelamin yang banyak berhubungan dengan budaya, sastra, dan kehidupan kita. Jenis kelamin inilah yang membuat perbedaan di antara semuanya yang juga membuat perbedaan pada diri pengarang, pembaca, perwatakan, dan pada faktor luar yang mempengaruhi situasi karang-mengarang (Sugihastuti, 2005: 5).
Kajian ini meletakkan dasar bahwa ada gender dalam kategori analisis sastra, suatu kategori yang fundamental. Adapun inti tujuan feminisme adalah meningkatkan keduduk­an dan derajat perempuan agar sama atau sejajar de­ngan kedudukan serta derajat laki-laki. (Djajanegara, 2000:4).
Sugihastuti (2005:15-16) mengemukakan bahwa dasar pemikiran dalam penelitian sastra berperspektif feminis adalah upaya pemahaman kedudukan dan peran perempuan seperti tercermin dalam karya sastra.
Pertama, kedudukan dan peran para tokoh perempuan dalam karya sastra Indonesia menunjukkan masih didominasi oleh laki-laki. Kedua, dari resepsi pembaca karya sastra Indonesia, secara sepintas terlihat bahwa para tokoh perempuan dalam karya sastra Indonesia tertinggal dari laki-laki, Keempat, penelitian sastra Indonesia telah melahirkan banyak perubahan analisis dan metodologinya, salah satunya adalah penelitian sastra yang berperspektif feminis. Kelima, lebih dari itu, banyak pembaca yang menganggap bahwa peran dan kedudukan perempuan lebih rendah daripada laki-laki seperti nyata diresepsi dari karya sastra Indonesia.
Berdasarkan dasar pemikiran di atas, langkah mengkaji prosa fiksi berdasarkan feminis dalam penelitian ini dilakukan dengan mendeskripsikan  berbagai isu sekaitan dengan perempuan dalam perspektif feminis berdasarkan kenyataan teks. Meliputi mengidentifikasi satu atau beberapa tokoh wanita di dalam sebuah karya, kita mencari kedudukan tokoh-tokoh itu di dalam masyarakat. Lebih lanjut, kita dapat mengetahui perilaku serta wa­tak tokoh perempuan dari gambaran yang langsung dibe­rikan penulis. Kemudian kita perhatikan pendirian serta ucapan tokoh wanita yang bersangkutan.
Langkah kedua adalah meneliti tokoh lain, terutama tokoh laki-laki yang memiliki keterkaitan dengan tokoh perempuan yang sedang kita amati. Langkah terakhir adalah mengamati sikap penulis karya yang sedang dikaji. Sebelum ketiga tahap itu dilakukan, terlebih dahulu penulis akan mendeskripsikan unsur-unsur pembentuk karya sastra ini.
            Unsur-unsur yang terdapat dalam sebuah prosa fiksi dibagi menjadi dua jenis yakni unsur intrinsik dan eksrinsik. Unsur intrinsik yang terdapat dalam sebuah prosa fiksi diantaranya adalah tema, alur/pengaluran, setting/latar, sudut pandang, amanat serta tokoh dan penokohan. Sedangkan unsur ekstrinsiknya meliputi nilai-nilai apa saja yang dapat diambil setelah membaca karya tersebut.
            Tema dari cerpen ”Pemetik air Mata’ adalah ketidakberdayaan perempuan, hal ini dapat kita simpulkan karena permasalahan yang mendasari cerpen ini adalah ketidakmampuan wanita dalam menghadapi masalah yang dialaminya. Hal ini dapat kita lihat dari kutipan berikut:
”Kamu menyenangkan sekali malam ini,” desah laki-laki itu tersengal, setelah lenguh panjang dan berbaring lemas memeluk Sandra.
”Makanya kamu nginep saja malam ini. Biar besok sekalian ngajak Bita jalan-jalan.”
Ketika laki-laki itu hanya diam, Sandra tahu kalau ia telah meminta yang tak mungkin laki-laki itu penuhi. Selama ini mereka memang sepakat, Sandralah yang akan mengurus Bita. Mengantar jemput ke sekolah. Menemani jalan-jalan atau pergi makan. Dan Sandra selalu mengatakan ”Papamu sibuk…” setiap kali Bita bertanya kenapa Papa enggak pernah ikut?
Sandra tahu malam ini laki-laki itu pun harus pergi. Sandra sudah terbiasa dengan pertemuan-pertemuan yang cuma sebentar seperti ini. Tapi ketika selepas jam 2 dini hari Sandra mendengar derum mobil laki-laki itu keluar rumahnya, ia benar-benar tak kuasa menahan air matanya. Dulu, saat ia seusia Bita, Sandra selalu pura-pura tertidur ketika ada laki-laki keluar masuk rumahnya. Apakah Bita kini juga pura-pura tak mendengar suara mobil itu pergi?(Paragraf ke-19)
Adapun alur cerpen ini dimulai dari penceritaan mengenai seorang pencuri sarang walet yang menemukan koloni peri-peri pemetik air mata yang kemudian menjualnya dipinggiran jalan, pendeskripsian karakter mamahnya serta penggambaran kehidupan Sandra semasa kecil dalam ingatannya, penceritaan tentang asal mula terciptanya para peri pemetik air mata (masih di dalam ingatannya), tumbuhnya ketidakpercayaan Sandra akan cerita peri-peri pemetik air mata karena disetiap harapannya peri-peri itu tidak jua datang untuk menghapus kesedihan yang dialami oleh mamahnya, penggambaran tentang betapa percayanya Bita (anak semata wayang Sandra) akan cerita tentang peri-peri pemetik air mata, Pendeskripsian fisik sosok suami yang dicintai Sandra, penolakan permintaan Bita untuk berjalan-jalan dengan papahnya serta pendeskripsian tentang hidup yang dialami oleh Sandra kini sebagai istri simpanan, dan yang terakhir harapan Sandra agar hidup yang dijalaninya kini akan selalu berjalan baik serta harapannya akan kemunculan peri-peri pemetik air mata untuk memetik kesedihan yang dirasakannya kini.
Terdapat tiga jenis latar yang membangunnya yakni latar tempat, latar waktu dan latar suasana. Pertama, latar tempat yang terdapat dalam cerpen “Pemetik Air Mata”  diantaranya adalah dunia,  ceruk gua-gua purba, pinggiran dan perempatan jalan, rumah, surga, sebuah kafe dan  losmen murahan. Kedua, latar waktu yang terdapat dalam cerpen ini hanyalah malam hari. Ketiga, latar suasana yang membangun cerpen ini adalah suasana kesedihan, seperti yang tergambar dalam kutipan berikut ini:
Setiap kali mendapati Mamanya menangis, Sandra pun berharap peri-peri pemetik air mata itu muncul. Ia tahu peri-peri itu bisa menghapus kesedihan dari mata Mamanya. Tapi Sandra tak pernah melihat peri itu muncul, dan Mamanya terus terisak menahan tangis, sembari kadang-kadang memeluk dan dengan lembut menciumi Sandra yang pura-pura tertidur pulas…”(paragraph ke-7)
Sudut pandang pengarang dalam cerpen ini adalah sebagai orang ketiga yang serba tahu.  Sedangkan amanat yang ingin disampaikan pengarang adalah bahwa seorang perempuan harus kuat dalam menghadapi setiap masalah yang harus dihadapinya dan setiap manusia harus menjadikan hidupnya lebih baik dari sebelumnya.
Terdapat enam tokoh di dalam cerpen “Pemetik Air mata’ yakni Sandra, Mamah Sandra, Bita, Suami Sandra, papah Sandra, para laki-laki, pencuri sarang walet, peri-peri pemetik air mata dan para pedagang. Di dalam cerpen ini juga terdapat sebuah nilai yang bisa dipetik yakni nilai social, dimana ternyata di dunia ini terdapat beberapa golongan masyarakat yakni khususnya perempuan yang berstatuskan pelacur atau istri simpanan, status seperti itu oleh masyarakat dipandang sebelah mata selama ini, tetapi sesungguhnya apabila dilihat lebih dalam ternyata mereka melakukan hal seperti itu bukan atas kemauan mereka sendiri tetapi mereka tidak memiliki pilihan lain. Nilai tersebutlah yang sesungguhnya ingin pengarang sampaikan dalam cerpen “Pemetik Air Mata”, Hal ini bisa dilihat dari kutipan berikut:
“…..Tidak. Tidak. Sandra tidak ingin seperti Mamanya. Bahkan Sandra tahu kalau Mamanya tak pernah menginginkan ia menjadi seperti Mamanya. Sandra selalu ingat, dulu, di saat-saat Mamanya begitu tampak mencintainya, perempuan itu selalu mendekapnya erat-erat sembari sesekali berbisik terisak, ”Berjanjilah pada Mama, kamu akan menjadi wanita baik-baik, Sandra.”…..”(paragraph ke-17)
Setelah kita mendeskripsikan unsur-unsur yang membangunnya, langkah pertama yang kita lakukan dalam mengkaji secara feminis yakni mendeskripsikan  berbagai isu sekaitan dengan perempuan dalam perspektif feminis berdasarkan kenyataan teks. Didalam cerpen ini terdapat dua tokoh wanita yakni Sandra dan Mamahnya. Sandra berperan sebagai pemeran utama karena ia merupakan tokoh sentral cerita ini, dia digambarkan sebagai seorang perempuan yang lahir dari seorang ayah yang entah tau dimana keberadaannya, sedangkan Mamahnya  dari ucapannya pun kita bisa melihat bahwa ia memiliki tabiat yang kurang baik dan dari pendeskripsian pengarang pun dapat kita ketahui bahwa ia merupakan seorang pelacur.
Suara Mama memang nyaris selalu membentak. Pernah sekali Sastra bertanya soal Papanya, tetapi ia langsung disemprot mulutnya yang berbau alkohol, ”Belajarlah untuk hidup tanpa seorang Papa! Taik Kucing dengan Papa!” Meski begitu Sandra tahu kalau sesungguhnya perempuan itu menyayanginya.”(Paragraf ke-8)
Sandra tumbuh dalam lingkungan yang tidak sehat, dikarenakan mamahnya yang seorng pelacur maka keluar masuk laki-laki dari rumahnya pun sudah menjadi makanan sehari-hari. Pada saat masih kecil, ia pernah  dipindahkan pelan-pelan ke kolong ranjang oleh Mamanya  karena mengira ia sudah tertidur, padahal ia bisa mendengar suara lenguh Mamanya dan laki-laki itu di atas ranjang. Juga suara dengus sebal Mamanya ketika akhirnya laki-laki itu mendengkur keras sekali. Mendengar hal-hal seperti itu tentulah setiap anak di dunia ini akan menangis, Sandra pun menangis pelan, dan disela tangisannya itu ia berharap peri-peri pemetik air mata datang, tetapi peri-peri itu tak jua datang. Beranjak dewasa Sandra bekerja sebagai penyanyi di sebuah kafe, dan di kafe itulah ia bertemu dengan laki-laki yang kini menjadi suaminya, hingga akhirnya pernikahan mereka itu dianugrahi seorang anak yang bernama Bita. Cintanya terhadap laki-laki itu amatlah besar, ia tidak berdaya untuk melawannya sehingga ia bersedia untuk dijadikan sebagai istri simpanan dan segala tanggung jawab dalam pengurusan Bita. Dalam menjalani hidupnya kini ia mencoba untuk tegar, hal ini tercermin dalam kutipan berikut:
Ketika laki-laki itu hanya diam, Sandra tahu kalau ia telah meminta yang tak mungkin laki-laki itu penuhi. Selama ini mereka memang sepakat, Sandralah yang akan mengurus Bita. Mengantar jemput ke sekolah. Menemani jalan-jalan atau pergi makan. Dan Sandra selalu mengatakan ”Papamu sibuk…” setiap kali Bita bertanya kenapa Papa enggak pernah ikut?”(Paragraf ke-20)
Walau ibunya seorang pelacur dan ia sering mengalami keadaan-keadaan yang tidak sepantasnya dialami oleh seorang anak-anak, Sandra tidak lantas menjadi seorang anak yang nakal. Justru ia bertekad untuk memiliki kehidupan yang lebih baik dari Mamahnya, hal itu mencerminkan bahwa Sandra memiliki pendirian yang kokoh. Meski bagitu, disisi lain ia juga memiliki hati yang rapuh dan sangat menyayagi Mamahnya.
Dulu, semasa kanak, setiap kali melihat Mamanya diam-diam menangis, Sandra selalu berharap peri-peri pemetik air mata itu muncul. Mamanya memang sering menangis terisak malam-malam. Ia pun selalu menangis bila melihat Mamanya menangis. Tapi Sandra berusaha menahan tangisnya karena Mamanya pasti akan langsung membentak bila tahu ia menangis. ”Jangan cengeng anak setan!”(Paragraf ke-7)
Dari pendeskripsian oleh pengarang, kita bias mengetahui bahwa Sandra tumbuh menjadi wanita yang baik dan tidak tumubh menjadi wanita yang gampangan, hal itu terdapat dalam kutipan berikut:
Sandra merasa hidupnya jauh lebih beruntung dari hidup Mamanya karena punya suami yang mencukupi hidupnya. Bagaimana pun suaminya memang laki-laki penuh perhatian yang pernah dikenalnya. Setidaknya dibanding puluhan laki-laki yang hanya iseng terhadapnya”(Paragraf ke-18)
Mamah Sandra memiliki pekerjaan sebagai seorang pelacur sehingga hal itu berakibat pada pendeskripsian yang pengarang berikan. Sosok Mamah dideskripsikan sebagai seorang yang memiliki tabiat tidak baik, sering berkata kasar, dan sering mabuk-mabukan. Akan tetapi dibalik itu semua ia sangat menyayangi Sandra.
Ia pun selalu menangis bila melihat Mamanya menangis. Tapi Sandra berusaha menahan tangisnya karena Mamanya pasti akan langsung membentak bila tahu ia menangis. ”Jangan cengeng anak setan!” Kadang teriakan itu disertai lembaran kaleng bir yang segera bergemerontangan di lantai yang penuh puntung dan debu rokok. Rumahnya memang selalu berantakan. Selalu ada pakaian dalam Mamanya yang berceceran begitu saja di lantai. Tumpahan bir di meja, bercak-bercak sisa muntahan di pojokan, botol-botol minuman yang menggelinding ke mana-mana. Kasur yang selalu melorot seprainya. Bantal- bantal tak bersarung. Pintu yang tak pernah tertutup dan sejumlah manusia yang terus- menerus mendengkur, bahkan ketika Sandra pulang dari sekolah.(Paragraf ke-7)
Tokoh mamah bekerja sebagai pelacur untuk menghidupi kehidupan mereka karena suaminya telah meninggalkan mereka berdua. Akan tetapi dibalik itu ia menyimpan sebuah penyasalan dan kesedihan dalam menghadapi kehidupan yang ia jalani ini. Hanya saja ia tidak berdaya dan tidak memilki pilihan lain, sehingga ia tetap melakukan pekerjaan tersebut. Sampai akhirnya ia ditemukan meninggal tergorok di losemen murahan. Sebelum meninggal ia berpesan kepada Sandra agar ia menjadi wanita baik-baik tidak seperti dirinya kini. Setiap ibu memang selalu mengharapkan yang terbaik bagi anaknya.
Terdapat dua isu sekaitan dengan perempuan yang diangkat dalam cerpen ini, yakni isu mengenai wanita tuna susila atau pelacur serta isu tentang istri simpanan. Dimana kedua isu tersebut merupakan salah satu contoh dari fenomena masyarakat yang diangkat oleh kaum feminis. Adapun Donna J Haraway, seorang kritikus feminis yang memiliki sudut pandang dan argumentasi yang berbeda, berpendapat bahwa sepanjang abad sejarah manusia telah didominasi dunia laki-laki dimana kaum perempuan menjadi objek seksual (Ratna, 2004:202). Tetapi dalam pandangan masyarakat selama ini kedua isu tersebut dinilai negative terutama bagi pihak perempuan sedangkan laki-laki tidak dinilai senegatife perempuan.. Untuk lebih jelasnya, berikut akan dipaparkan hal-hal yang berkaitan dengan kedua kasus tersebut.  
Pelacuran adalah salah satu penyakit masyarakat yang mempunyai sejarah yang panjang (sejak adanya kehidupan manusia telah diatur oleh norma-norma perkawinan, sudah ada pelacuran sebagai salah satu penyimpangan dari pada norma-norma perkawinan tersebut) dan tidak ada habis-habisnya yang terdapat di semua negara di dunia. Sejak dahulu yang dianggap paling hina dalam kegiatan pelacuran itu selalu wanita sedangkan laki-laki yang membeli jasa perempuan tersebut tidak pernah dianggap seperti itu. Tidak cukup dengan label wanita hina tetapi seorang pelacur juga identik dengan wanita nakal. Dalam cerpen Pemetik Air Mata ini pun sang pengarang menggambarkan sosok Mamah Sandra yang seorang pelacur itu bersifat nakal dan hina.
Ia pun selalu menangis bila melihat Mamanya menangis. Tapi Sandra berusaha menahan tangisnya karena Mamanya pasti akan langsung membentak bila tahu ia menangis. ”Jangan cengeng anak setan!” Kadang teriakan itu disertai lembaran kaleng bir yang segera bergemerontangan di lantai yang penuh puntung dan debu rokok. Rumahnya memang selalu berantakan. Selalu ada pakaian dalam Mamanya yang berceceran begitu saja di lantai. Tumpahan bir di meja, bercak-bercak sisa muntahan di pojokan, botol-botol minuman yang menggelinding ke mana-mana.(Paragraf ke-7)
Memang Norma-norma sosial jelas mengharamkan pelacuran bahkan sudah ada UU mengenai praktek prostitusi atau pelacuran yang ditinjau dari segi Yuridis dalam KUHP yaitu mereka menyediakan sarana tempat persetubuhan (pasal 296 KUHP), mereka yang mencarikan pelanggaran bagi pelacur (pasal 506 KUHP), dan mereka yang menjual eprempuan dan laki-klaki di bawah umur untuk dijadikan pelacur (pasal 297 KUHP). Dunia kesehatan juga menunjukkan dan memperingatkan bahaya penyakit kelamin yang mengerikan seperti HIV / AIDS akibat adanya pelacuran di tengah masyarakat.
Apalagi dalam agama Islam, prostitusi atau pelacuran merupakan salah satu perbuatan zina dan zina hukumnya haram dan termasuk kategori dosa besar. Ada beberapa ayat yang menjelaskan tentang hukuman bagi orang yang berzina yaitu para pezina yang masih bujang di hukum cambuk delapan puluh kali (An-Nur : 4) dan “yang sudah menikah dilempari batu 100 kali, alias mati. Nabi Muhammad SAW bersabda “Tidak halal darah bagi seorang muslim yang bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah dan aku adalah Rasulnya, kecuali disebabkan oleh salah satu dari tiga hal : orang yang sudah menikah berzina, membunuh orang, meninggalkan agamanya serta memisahkan dari jamaah”. Prostitusi atau pelacuran ditinjau dari sudut manapun merupakan suatu kegiatan yang berdampak tidak baik (negatif).  Bahkan dari aspek kewanitaan pun, prostitusi merupakan kegiatan merendahkan martabat wanita. Tetapi dalam cerpen Pemetik Air mata ini pengarang ingin menyampaikan sesuatu yang lain dibalik seorang pelacur.
Secara nalar sulit kita bayangkan ada orang yang ingin hidup untuk menjadi pelacur, sama saja ia ingin hidup secara hina. Kalau toh ada, orang itu benar-benar tidak normal dan sudah hilang kewarasannya. Mesti ada sebab-sebab lain yang mendorong seseorang itu melacur. Seperti halnya tokoh Mamah Sandra dalam cerpen ini, ia tidak memilki pilihan lain selain melacur untuk menghidupi anak semata wayangnya, Sandra.
Suara Mama memang nyaris selalu membentak. Pernah sekali Sandrra bertanya soal Papanya, tetapi ia langsung disemprot mulutnya yang berbau alkohol, ”Belajarlah untuk hidup tanpa seorang Papa! Taik Kucing dengan Papa!” Meski begitu Sandra tahu kalau sesungguhnya perempuan itu menyayanginya. (Paragraf ke-8)
Dari pernyataan Mamahnya diatas kita dapat menyimpulkan bahwa Sandra tidak memiliki seorang papah dan kita dapat menduga kalau papahnya pergi meninggalkannya sejak kecil. Sehingga mamah Sandra berjuang menghidupi anaknya itu dengan menjadi seorang pelacur. Meski begitu, pada diri mamahnya tergambar sebuah kesedihan yang mendalam akan perbuatan yang ia jalani ini dan ia pun menganggap dirinya sendiri hina sehingga ia berpesan kepada anaknya agar anaknya itu tumbuh menjadi wanita baik-baik.
Tidak. Tidak. Sandra tidak ingin seperti Mamanya. Bahkan Sandra tahu kalau Mamanya tak pernah menginginkan ia menjadi seperti Mamanya. Sandra selalu ingat, dulu, di saat-saat Mamanya begitu tampak mencintainya, perempuan itu selalu mendekapnya erat-erat sembari sesekali berbisik terisak, ”Berjanjilah pada Mama, kamu akan menjadi wanita baik-baik, Sandra.”(Paragraf ke-17)
Pandangan akan hinanya seorang pelacur pun tampak pada pemikiran Sandra yang tak ingin seperti mamahnya dan ia pun merasa lebih beruntung karena memiliki seorang suami.
Sandra memang tak ingin nasibnya berakhir celaka seperti Mamanya: digeroti penyakit kelamin saat tua dan ditemukan mati tergorok di losmen murahan.(Paragraf ke-16)
Dalam cerpen ini pun diisyaratkan salah satu dampak dari pelacuran yaitu akan terkena penyakit kelamin dan hal itu terjadi pada akhir hidup mamah Sandra.
Isu ke dua sekitar wanita yang terdapat dalam cerpen ini adalah isu sekitar wanita yang menjadi istri simpanan. Istri simpanan merupakan seorang yang ditikahi hanya menurut agama saja tetapi tidak terdaftar di lembaga Negara. Islam memang memperbolehkan nikah siri karena secara moral sipelaku yang jelas beragama islam akan memahami segala konsekuensinya pihak laki-laki berkewajiban memberikan rejeki, melindungi istrinya dan lain-lain. Pihak perempuan berkewajiban seperti umumnya pada pernikahan resmi. Tetapi dalam cerpen “Pemetik Air Mata” ini terjadi penyelewengan dalam hal pelaksanaan nikah siri.
Dalam cerpen ini yang menjadi symbol dari seorang istri simpanan itu bernama Sandra. Walau begitu, Sandra merasa beruntung karena kehidupannya lebih baik dari Mamahnya yang hanya seorang pelacur. Ya, setidaknya ia memiliki seorang suami.
Sandra merasa hidupnya jauh lebih beruntung dari hidup Mamanya karena punya suami yang mencukupi hidupnya. Bagaimana pun suaminya memang laki-laki penuh perhatian yang pernah dikenalnya. Setidaknya dibanding puluhan laki-laki yang hanya iseng terhadapnya.(Paragraf ke-18)
Hanya saja pernikahannya ini dilakukan tanpa persetujuan istri pertamanya, sehingga seluruh tanggung jawab dalam mendidik Bita diserahkan kepadanya. Bahkan suaminya itu jarang sekali tinggal seharian di rumahnya dan selalu pulang pada tengah malam. Ia juga tidak pernah mengajak Bita jalan-jalan. Memang hal tersebut tidaklah adil, tetapi apa daya ia tidak kuasa untuk menghadapi masalah cintanya. Ia terlalu mencintai suaminya. 
Sandra tahu malam ini laki-laki itu pun harus pergi. Sandra sudah terbiasa dengan pertemuan-pertemuan yang cuma sebentar seperti ini. Tapi ketika selepas jam 2 dini hari Sandra mendengar derum mobil laki-laki itu keluar rumahnya, ia benar-benar tak kuasa menahan air matanya.(Paragraf ke-21)
Dari kutipan diatas pun kita dapat melihat sebuah perbuatan yang tidak bertanggung jawab dan ketidakberanian seorang laki-laki, sehingga ia melimpahkan semuanya itu pada pihak perempuan. Kita dapat menafsirkan jika suami Sandra tidak berani untuk mengakui pada istri pertamanya bahwa ia sudah menikah sehingga ia selalu dating diam-diam dan pulang pada tengah malam. Kemudian laki-laki itu melimpahkan tanggung jawab untuk mengurus anaknya itu kepada Sandra. Seolah-olah ia hanya ingin mendapatkan kesenangan saja. Fenomena tersebut adalah salah satu fenomena yang ditentang oleh kaum feminis. Ratna (2004:191) berpendapat bahwa kaum feminis tidak menyetujui adanya anggapan yang menyatakan bahwa karena memiliki kekuatan maka laki-laki cenderung untuk menaklukkan, mengadakan ekspansi dan bersifat agresif. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kaum feminis tidak menyutujui kedua isu yang terdapat dalam cerpen “Pemetik Air Mata” ini karena dalam cerpen ini digambarkan bahwa seorang laki-laki memiliki kekuatan baik itu dari segi material ataupun kekuatan lainnya sehingga ia menaklukan, mengadakan ekspansi serta bersifat agresif.
”Kamu menyenangkan sekali malam ini,” desah laki-laki itu tersengal, setelah lenguh panjang dan berbaring lemas memeluk Sandra.
”Makanya kamu nginep saja malam ini. Biar besok sekalian ngajak Bita jalan-jalan.”
Ketika laki-laki itu hanya diam, Sandra tahu kalau ia telah meminta yang tak mungkin laki-laki itu penuhi. Selama ini mereka memang sepakat, Sandralah yang akan mengurus Bita. Mengantar jemput ke sekolah. Menemani jalan-jalan atau pergi makan. Dan Sandra selalu mengatakan ”Papamu sibuk…” setiap kali Bita bertanya kenapa Papa enggak pernah ikut? (Paragraf ke-19)
Kedua isu tersebut pengarang cerpen ini yakni Agus Noor tonjolkan karena memang  hal-hal itu sering terjadi di kehidupan nyata. Ya, perempaunlah yang selalu menjadi korban. Akan tetapi banyak sekali masyarakat yang menilai negative hanya kepada mereka saja sedangkan laki-laki yang terlibat dianggap seolah-olah bersih. Maka dari itu dalam cerpen ini Pengarang ingin memberikan gambaran lain yang tak pernah dilihat sebelumnya oleh orang lain dan sering terlewatkan. Dimana dibalik kenakalan seorang pelacur, terdapat sebuah kesedihan dan ketidakberdayaan menghadapi hidup yang dialaminya. Selain itu dibalik seorang istri simpanan yang biasa dianggap sebagai perusak rumah tangga orang lain pun terdapat sebuah kesedihan dan ketidakberdayaan seorang perempuan dalam menghadapi cintanya. Dalam cerpen Pemetik Air Mata ini kita dapat mengambil sebuah hikmah yakni jangan pernah menilai seseorang dari luar saja dan cari tahulah sebab-sebab mengapa orang tersebut melakukan hal tersebut. Karena pasti terdapat sebuah alasan mengapa seseorang melakukan sesuatu hal.

Analisis Sastra Feminis Novel “SOLD, Kenapa Aku Dijual?” Karya Zana Muhsen dan Andrew Croft.bag 2


Perbudakan
            Kisah perbudakan wanita yang terjadi di jaman modern, seperti yang tertera  pada bagian depan cover novel, selain itu, hal tersebut dapat terlihat pula dari barang-barang bertekhnologi modern yang digunakan dari deskrifsi novel tersebut, seperti televisi, mobil (taxi) yang digunakan oleh Mum, Telepon di rumah Abdul Wali, dsb. Namun dalam kehidupan sosial tetap saja wanita dijadikan objek yang tertindas, mereka harus mengangkut air dengan bejana di kepala yang bermil-mil jaraknya, bercocok tanam di tanah yang gersang dengan hanya menggunakan sebuah sendok semen dan belati, menggiling jagung secara manual padahal telah ada penggilingan jagung tenaga mesin, bahkan sampai melahirkan di lantai tanah pun mereka alami. Wanita tidak punya pilihan mereka terkungkung dibalik kerudung mereka, bekerja mengurus keluarga, bekerja membanting tulang dan tak kenal istirahat.

Kedudukan Tokoh Wanita dalam Lingkungan Masyarakat
Ø  Zana Muhsen
    Zana adalah seorang gadis berkebangsaan ganda, karena orang tuanya yang berbeda  negara. Selama 8 tahun ia mengalami perbudakan dan penyiksaan di negara tempat ayahnya berasal, akibat di jual oleh ayah kandungnya sendiri. Ia  terperangkap di sebuah negara termiskin di dunia yang rakyatnya hidup dalam kondisi yang sama selama ribuan tahun. Kebanyakan laki-laki yang fisiknya kuat, bekerja di luar negeri agar dapat mengirim uang ke rumah untuk membeli makanan, sementara para wanitanya tinggal di desa bekerja membanting tulang dan mengurus keluarga.
Berasal dari kehiupan modern di Inggris dan secara drastis Zana dalam usia belia ia harus hidup sebagai seorang istri di suatu dunia yang kejam dan primitif. Di dunia abad pertengahan ini wanita tak punya hak dan kendali atas hidup mereka. Mereka benar-benar di bawah kekuasaan para lelaki di dalam keluarga mereka. Laki-laki adalah hukum bagi mereka. Dan siapa saja yang berani mengajukan bermacam-macam pertanyaan atau menentang adat perbudakan dan kawin paksa tersebut mereka akan menghilang begitu saja. Begitu pula dengan adiknya, Nadia juga mengalami nasib yang sama dengan Zana. Perhatikan kutipan berikut yang menunjukan kedudukan wanita dalam kehidupan masyarakat Yaman.

“ Dunia itu adalah dunia yang kejam, berbahaya dan primitif. Laki-laki berkuasa sepenuhnya dan wanita harus menerima nasib mereka walaupun harus menikah saaat umur sembilan tahun dengan seorang lelaki yang tidak mereka kenal, berjalan sejauh satu mil ke sebuahsumur setiap hari seumur hidup mereka untuk membawa air ke rumah, atau bercocok tanam di tanah yang tandus dengan menggunakan sebuh sendok semen  atau belati, tahun demi tahun.”  

“ Jika seorang gadis menikah di sebuah keluarga Yaman, gadis itu diharapkan akan berbagi beban pekerjaan dengan semu wanita yang ada di keluarga itu, membebaskan wanita-wanitayang sudah tua dari tugas-tugas yang paling berat . Ini adalah salah satu alas an kenapa para pria sangat ingin membeli gadis yang kuat dan sehat untuk dinikahkan dengan anak-anak mereka. Gadis-gadis setempat diajari bekerja sejak mereka bisa berjalan. Mereka diajari cara memanggul air di atas kepala, cara memasak, membersihkan rumah, mengurus ladang dan hewan peliharaan. Selain diajarkan untuk hormat atau paling tidak takut, pada para pria, mereka tidak diajarkan jalan hidup yang lain.”(Zana Muhsen & Andrew Croft, 2008: 118).
“Saat sudah lebih bisa bekrkomunikasi dengan para wanita di sana, aku mengetahui betapa tidak sukanya mereka akan kehidupan mereka dan kenyataan bahwa mereka sering ditinggal untuk waktu lama sementara para suami bekerja keliling dunia” (Zana Muhsen & Andrew Croft, 2008: 126).

Kedudukan Tokoh Pria dalam Masyarakat
Ø    Abdul Khada
Abdul Khada adalah seorang pria Yaman teman dari Dad (ayah Zana). Dia membeli Zana dari Dad seharga 1300 poundsterling untuk dinikahkan dengan putra bungsunya yang sakit-sakitan, bernama Abdullah dan baru berusia 13 tahun. Dari hal ini saja tentu kita sudah mendapatkan gambaran bahwa kedudukan laki-laki lebih tinggi dari pada kaum wanita, dimana wanita dapat diperjualbelikan dengan uang, wanita dianggap sebagai barang yang dapat diukur dengan materi.
Abdul Khada bersikap bak penguasa, tidak hanya pada keluarganya tetapi juga pada masyarakat Hockail, Desa Mokbana. Abdul Khada dan Ward istrinya terkenal sebagai pasangan yang kejam, meskipun tetap dalam kedudukan Ward adalah istri yang diperbudak oleh Abdul Khada. Wanita Yaman dapat makan enak hanya ketika ada suaminya di rumah. Jka mereka telah kembali keluar negeri untuk bekerja, para wanita kembali memakan Chapatis makanan khas daerah tersebut. Berikut kutipan novel yang dapat menggambarkan kedudukan laki-laki di masyarakat Yaman.

“Aku juga senang karena Abdul Khada tidak akan mempermainkanku lagi sepanjang waktu meski dia masih bisa mengontrol hidup kami walau sudah berada di Arab Saudi. Pengaruhnya atas Ward, Mohammed dan pria lain di desa, berarti dia selalu bisa memaksa kami melakukan apapun yang diinginkannya dengan ancaman akan melakukan sesuatu saat pulang nanti. Berangsur-angsur aku pun menjadi takut padanya seperti yang lain, karena aku tahu dia akan memukuliku tanpa belas kasihan kalau aku membuatnya tidak senang, tetapi aku bertekad untuk melawannya. Kami harus menang melawannya . Kami harus kabur.”( Zana Muhsen & Andrew Croft, 2008: 154-156).



Ø    Gowad
Gowad pun adalah seorang pria Yaman teman Dad, yang membeli Nadia adik Zana seharga 1300 poundsterling untuk dinikahkan dengan Mohemmed putranya. Sikapnya tak jauh beda dengan Abdul Khada karena memang sudah lumrah wanita terpuruk dalam kekuasaan laki-laki begitupun dengan cara ia memperlakukan Nadia agar mau menuruti semua perintahnya. Berikut kutipan novel yang dapat menggambarkan perilaku dan kedudukan laki-laki dalam masyarakat Yaman.

“Gowad menyeretku ke kamar, dan menguci pintu. Aku dudk dan menunggu apa yang akan terjadi. Lalu aku mendengarnya di luar kamar, berteriak-teriak pada Mohammed. Sepertinya Mohammed menolak untuk tidur bersamaku. Aku bisa mendengar Gowad memukulinya keras-keras, Mohammed terus-menerus menjerit. Hal itu sangat mengerikan,” kata Nadia. .”( Zana Muhsen & Andrew Croft, 2008).

Jadi dari kedua contoh kedudukan laki-laki di masyarakat Yaman itu kita dapat menyimpulkan bahwa laki-laki memegang kekuasaan tertinggi atas istri dan anak-anaknya. Bahkan wanita pun dapat diperjualbelikan.

Pandangan Masyarakat tentang Kasus Perbudakan
            Setelah kisah perbudakan itu terpublikasi melalui berbagai media di Inggris, sebagian besar warga dunia memberikan simipati dan empatinya kepada Zana dan Nadia. Bahkan kisah perbudakan yang semula ditutup-tutupi oleh pemerintah Yaman sendiri, kini mereka merasa dipusingkan oleh pers dalam dan luar negeri yang mendesak agar mereka mau membantu membebaskan Zana dan Nadia sehingga keduanya bisa kembali ke Inggris. Bahkan masalah ini menjadi masalah internasional yang melibatkan pejabat-pejabat kementrian Yaman maupun pejabat kementrian Inggris, juga lembaga-lembaga tinggi internasional, seperti Departemen Luar Negeri dan Departemen Dalam Negeri Inggris, Badan amal  bernama Perlindungan Anak Internasional (Defence of Children International) yang bermarkas di Jenewa, koran Observer, serta beberapa media informasi  dan staiun televisi bahkan Mum sampai menulis surat ke Kerajaan Inggris untuk meminta bantuan.
“Namun, para penonton melihat penderitaan di mata Nadia saat dia berbicara dan mereka mulai memaki Mr. Shoki lagi. Pers tidak bisa ditipu.( Zana Muhsen & Andrew Croft, 2008: 399).
“................setiap hari surat datang ke Birmingham dari negara-negara yang menerbitkan buku itu. Para pembaca menyampaikan simpati dan dukungan tapi tak ada yang berubah.”

Pandangan Agama tentang Kasus Perbudakan
Dari segi agama jelas-jelas melarang adanya perbudakan terhadap wanita dan anak-anak, bahkan dalam novel itu sendiri disebutkan sebagai berikut:

“Tak satu pun wanita di desa itu, kecuali aku dan Nadia, yang benar-benar dipaksa menikah. Jika mereka tidak ingin menikah mereka berhak menolak. Itulah sebabnya kenapa saat aku Nadia dipaksa menikah hal itu dianggap salah. Sebab pernikahan itu tidak kami inginkan dan bertentangan dengan agama yang mereka pahami.”( Zana Muhsen & Andrew Croft, 2008: 128).
Selain itu dalam sebuah hadist tentang wanita dikatakan bahwa:

“Wanita adalah belahan separo (yang sama) dengan pria.” (HR Abu Dawud dan Ahmad). (1100 Hadist Terpilih)
Hadist di atas secara jelas menyatakan bahwa adanya tidak ada wanita yang derajatnya lebih rendah dari laki-laki. Islam memandang keduanya sama-sama dalam artian keduanya manusia ciptaan Allah. Islam sama sekali tidak menganggap wanita sebagai suatu bakteri yang mengandung penyakit sebagaimana persepsi orang-orang Yahudi dan Nasrani. Islam datang untuk datang untuk melepaskan wanita dari belenggu-belenggu kenistaan dan dan perbudakan terhadap sesama manusia. Islam memandang  wanita sebagai makhluk yang mulia dan terhormat, makhluk yang memiliki beberpa hak yang telah disyariatkan oleh Allah. Di dalam Islam haram hukumnya berbuat aniaya dan memperbudak wanita. Dan Allah akan mengancam orang yang berani melakukan perbuatan itu dengan ancaman siksa yang amat pedih. (Ensiklopedi wanita Muslimah)
Beberapa ayat Al-Quran yang memandang kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan dalam beberapa hal, sebagai berikut:


Ø    Islam menganggap mereka sama dalam memikul sebagian beban-beban keimanan.
“Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang yang mukmin laki-laki dan perempuan kemidian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab jahanam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar.”(QS. Al-Buruj: 10)
Ø    Islam menganggap mereka sama dalam hal saling tolong menolong.
“ Dan orang-orang yang beriman laki-laki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh mengerjakan yang Ma’ruf, mencegah dar yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakatdan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS. At-Taubah 71)
Ø    Firman Allah yang menerangkan kedudukan wanita dalam Islam dimana kehormatan dan kemuliaannya dijaga demikian ketat. (Qs. Annur: 4)

Ayat-ayat di atas menjadi bukti besar sungguh wanita itu sangat tinggi kedudukannya, adalah wasiat Nabi Saw pada pertemuan Islam paling agung, yaitu dalam peristiwa Haji Wada, beliau bersabda:
“Baik-baiklah dalam memberikan wasiat kepada wanita”.

Wanita diciptakan dari tulang rusuk yang terletak di dalam rongga dada dekat ulu hati, karena wanita hidup untuk dilindungi dan dicintai”

“Tulung rusuk memang bengkok, maka itu jangan sesekali kaum laki-laki berusaha untuk meluruskannya karena tulang rusuk itu akan patah. Namun jika tidak luruskan tulang rusuk akan tetap bengkok, sehingga kaum laki-laki berkewajiban untuk memeliharanya agar dapat menjaga dan menstabilkannya”(Kartini:2007)

Ungkapan di atas terbukti dengan sikap Zana yang kasar dan sarkastis setelah tahu ada perlakuan yang tidak adil kepadanya. Ia selalu melakukan perlawanan terhadap kekerasan yang ia terima dari Abdul Khada, meskipun akhirnya ia harus menyerah juga. Perhatikan kutipan berikut!

“Dia pun takut menghadapi ayahnya, meskipun dia adalah lelaki dewasa yang telah berkeluarga. Aku akhirnya mengetahui bahw apria Arab selalu patuh terhadap ayahnya meskipun ketika mereka berselisih paham. Salah satu yang terpikir olehku adalah terus-menerus menolak mematuhi mereka sehingga suatu saat mereka akan bosan dan mengirimku kembali ke rumah. Malam itu Abdul Khada mendatangiku dan menyuruhku untuk tidur bersama Abdullah.”
“Aku tidak mau,“ Protesku.
“Kau harus mau atau kami akan memaksamu. Kami akan mengikatmu di atas ranjang,” Tegasnya. .”(Zana Muhsen & Andrew Croft, 2008: 72-73)

 Konteks Feminis Sosialis pengarang
            Perasaan dan kehidupan pengarang yang berperan sebagai tokoh “aku” dalam novel ini benar-benar terasa, dimana pengarang meluapkan seluruh emosinya dalam karya sastra yang ia tulis. Semua genre sastra dalam karya sastra yang mereupakan curahan pengalaman, kehidupan, budaya dan tradisi dalam kehidupan masyarakat Yaman dideskripsikan secara mendetail.
            Melalui novel ini, Zana Muhsen mempublikasikan kisah perbudakan yang ia alami dan membuka tabir rahasia perbudakan di salah satu daerah ni negara Yaman, yang belum pernah terungkap. Selain itu melalui novel ini Zana Muhsen ingin mencari bantuan  dan simpati dari warga masyarakat dunia agar mau membantunya  membebaskan Nadia yang masih terperangkap di Mokbana, Yaman. Bahkan novel ini di dedikasikan sebagai janji untuk Nadia.
            Sikap Zana Muhsen yang merupakan  penulis sekaligus tokoh “aku” dalam novel ini menggambarkan pribadinya yang kuat dan mandiri serta tidak mudah berputuus asa untuk menanti datangnya secercah harapan yang tak pasti. Meskipun akhirny ia dapat terbebas dari belenggu penderitaan dan perbudakan. Dalam karya sastranya ini jelas-jelas Zana Muhsen sebagai tokoh feminis yang mendukung paham feministik.
            Karena Zana Muhsen merupakan tokoh feminis yang benar-benar merasakan penindasan, tekanan mental, bekerja tanpa henti, siksaan dan pemerkosaan,dll. Selama 8  tahun hidup sebagai wanita petani Arab, Zana memiliki pengetahuan yang kedalamannya tak tertandingi tentang kehidupan wanita di sana dan bagaimana kehidupan yang telah dijalani wanita-wanita di negara lain di masa yang belum lama berlalu. Masa ketika segala macam seperti listrik ledeng, kontasepsi, perawatan medis dan yang lainnya belum ada.

            Mungkin ini hanya sebagian dari kisah perbudakan wanita yang baru terungkap, entah masih banyak kisah perbudakan wanita lainnya, di tempat yang berbeda yang belum terpublisitas.

Nilai Sosial
Nilai Material
Wanita diperjual belikan seperti halnya barabg-barang di pasar yang tak ada harganya. Dalam novel ini Zana dan Nadia dijual oleh ayahnya seharga masing-masing 1300 poundsterling kepada Abdul Khada dan Gowad. Sehingga mereka menjadi korban penindasan dan perbudakan di Yaman.

Nilai Agama
            Wanita-wanita Yaman yang hampir seluruhnya menutupi auratnya dengan kerudung dan cadar, bahkan mereka dilarang untuk menempakan wajahnya ketika ada tamu laki-laki yang bukan mahramnya.
DAFTAR PUSTAKA

Dr. I. Dewa Putu Wijana, S. U., M. A, Dasar-dasar Pragmatik. Yogyakarta: Andy Yogyakarta.

Materi kelas (Djayanegara, Feminisme)

Haya binti Mubarok Al-Barik, Ensiklopedi Wanita Muslimah. Jakarta: Darul Falah.

Dr. Muhammad Faiz Almath, 1100 Hadits Terpilih. 1991. Jakarta: Gema Insani.

Analisis Sastra Feminis Novel “SOLD, Kenapa Aku Dijual?” Karya Zana Muhsen dan Andrew Croft.


Sinopsis
SOLD, Mengapa Aku Dijual?
Oleh Satria Setiawan,dkk
Dalam Novel ini diceritakan kisah perbudakan wanita yang dijual oleh ayah kandungnya sendiri. Berawal dari rencana liburan yang ditawarkan oleh Dad (ayahnya) kepada Zana (tokoh “aku”) dan Nadia, adiknya, ke Yaman, tempat kakek dan neneknya tinggal. Namun mereka pergi pada waktu yang berbeda, Zana (15) berangkat bersama Abdul Khada (Pria Yaman, teman Dad) seminggu lebih dulu dari Nadia. Sedangkan Nadia Berangkat bersama dengan Gowad, yang juga teman akrab Dad.
            Sejak saat itu penderitaan mereka dimulai. Mereka yang mengira akan berlibur dan bersenang-senang di tempat yang indah sebagaimana yang diceritakan oleh Dad, terkejut dengan keadaan yang justru berbalik 1800, lebih-lebih mereka diberitahukan telah dinikahkan  secara resmi oleh ayahnya, yang kemudian diketahui bahwa mereka telah dijual seharga 1300 poundsterling kepada Abdul Khada dan Gowad, untuk dinikahkan dengan Abdullah (14) dan Mohammed (13).
            Zana dan Nadia, keduanya terperangkap dalam lembah penderitaan dan perbudakan di negeri orang, yang merupakan salah satu negeri termiskin di dunia. Dimana perempuan harus patuh kepada kaum laki-laki. Wanita harus bekerja dari sejak fajar menyingsing hingga larut malam, mengangkut air dengan bejana di kepala yang bermil-mil jaraknya, bercocok tanam di tanah yang gersang dengan hanya menggunakan sebuah sendok semen dan belati, sedangkan kaum laki-lakinya  biasanya bekerja ke luar negeri selama berbulan-bulan. Jika tidak menurut mereka akan dipukuli oleh kaum laki-laki, begitu juga dengan anak laki-laki yang segala nasib dan ketentuannya berada di tangan ayah mereka.
            Akhirnya, karena semangat yang tak pernah pudar selama 8 tahun, dengan hadirnya seorang dokter yang mau menyampaikan surat mereka pada Mum (ibunya) sehingga Zana (tokoh “aku”) dapat keluar dari Yaman dengan bantuan pemerintah dan pers Inggris. Meskipun begitu hingga kini Nadia masih menjadi tahanan di Mokbana, Yaman  menunggu Zana dan Mum menyelamatkannya.
         
Pengertian Feminisme
            Novel “SOLD, Mengapa Aku Dijual?” karya Zana Muhsen dan Andrew Croft ini merupakan novel yang mengangkat masalah tentang perbudakan. Novel ini diambil dari kisah nyata wanita yang mengalami perbudakan di Zaman Modern. Novel ini akan dianalisis dengan telaah feminisme. Sebab Feminisme merupakan ilmu yang dapat digunakan untuk menganalisis karya sastra dengan kesadaran khusus, bahwa ada jenis kelamin yang banyak berhubungan dengan budaya, sastra dan kehidupan kita. Jenis kelamin inilah yang membuat perbedaan diantara semuanya yang juga membuat perbedaan pada diri pengarang, pembaca, perwatakan dan faktor luar yang mempengaruhi situasi karang-mengarang (Sugihastuti, 2005:5).
            Djayanegara (2000: 27-39) menguraikan ragam kritik sastra feminis sebagai berikut.
  1. Kritik Sastra Feminis Ideologis, memandang kaum wanita khususnya kaum feminis sebagai pembaca. Yang menjadi pusat perhatian pembaca wanita adalah citra serta streotipe wanita dalam karya sastra.
  2.  Kritik Sastra Feminis Ginokritik, mengkaji tulisan-tulisan wanita (penulis wanita). Ginokritik mencoba mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mendasar, seperti apakah penulis-penulis wanitamerupakan kelompok khusus, dan apa perbedaan antara tulisan wanita dan laki-laki.
  3. Kritik Sastra Feminis Sosialis (Marxis), meneliti tokoh wanita dari sudut pandang sosialis, yaitu kelas-kelas masyarakat yang tertindas.
  4. Kritik Sastra Feminis Psiko analitik, diterapkan pada tulisan-tulisan wanita karena para feminis mencoba mengungkapkan bahwa biasanya mengidentifikasikan dirinya atau menempatkan dirinya pada tokoh wanita, sedangkan tokoh wanita tersebut pada umumnya merupakan cerminan atas penciptanya.
  5. Kritik Sastra Feminis Lesbian, meneliti penulis dan tokoh perempuan saja. Kajian ini masih terbatas karena beberapa factor. Pertama, para feminis pada umumnya tidak menyukai kelompok perempuan homoseksual dan memandang mereka sebagai feminis radikal. Kedua, waktu tulisan-tulisan tentang perempuan bermunculan pada tahun 1979-an. Jurnal-jurnal perempuan tidak ada yang menulis tentang lesbianisme. Ketiga, kaum lesbian sendiri belum mampu mencapai kesepakatan tentang definisi lesbianisme. Keempat, disebabkan sikap antipati para feminis dan masyarkat, penulis lesbian terpaksa dalam bahasa yang terselubung serta menggunakan lambing-lambang, disamping menyensor sendiri.
  6. Kritik Sastra Feminis Etnik,  mempermasalahkan diskriminasi seksual dan diskriminasi rasial dari kaum kulit putih maupun hitam, baik laki-laki maupun perempuan.
(Djajanegara, 2000: 27-39)
Dengan demikian, feminisme menaruh perhatian besar pada kedudukan dan peran perempuan, seperti yang tercermin pada karya sastra yang mengangkat kisah-kisah tentang derajat perempuan dalam kehidupan sosial masyarakat, serta usaha feminisme untuk memperoleh kesetaraan hak dan pegakuan dengan kaum laki-laki.
Adapun, analisis novel “SOLD, Mengapa aku dijual?” ini menggunakan pendekatan teori feminisme sosialis (Marxis) yang meneliti tokoh-tokoh wanita dari sudut pandang sosial/ kelas masyarakat dimana wanita dianggap sebagai kelas masyrakat yang tertindas.

Konteks Feminis Sosialis

            Novel ini mungkin akan mengingatkan kita pada banyak sekali kisah wanita Indonesia yang menderita karena dipaksa menikah, seperti kisah Siti Nurbaya, Nyai Dasima pada masa jaman pemerintahan kolonial, dsb.
            Berikut adalah kedudukan wanita sebelum dan sesudah Islam:
  1. Wanita di mata Orang-orang Yunani
Di mata mereka wanita sangat dilecehkan dan diejek. Sampai-sampai mereka mengklaim kaum wanita sebagai najis. Wanita boleh dirampas haknya dan boleh diperjualbelikan di pasar-pasar.
  1. Wanita di mata orang-orang Rumawi
Mereka terkenal dengan semboyang “Wanita Tidak Punya Ruh”. Kaum wanita mengalami berbagai macam siksaan yang kejam.
  1. Wanita di mata orang-orang Cina
Orang-orang Cina menyamakan wanita dengan air penyakit yang membasuh kebahagiaan dan harta. Seorang berkebangsaan Cina berhak menjual istrinya sebagaimana budak perempuan.

  1. Wanita di mata orang-orang Hindu
Di dalam syariat Hindu dijelaskan: “Sesungguhnya kesabaran tertentu, angin, kematian, neraka, racun dan ular itu tidaklah lebih jahat ketimbang wanita.
  1. Wanita di mata orang-orang Yahudi
Ada sama orang Yahudi yang menganggap wanita itu derajatnya sama seperti pelayan. Jadi ayahnya berhak menjualnya dengan harga murah sekalipun.
  1. Wanita di mata orang-orang Nasrani
Mereka mengatakan: “Sesungguhnya wanita adalah sumber kejahatan, malapetaka yang disukai, sangat penting bagi keluarga dan rumah tangga, pembunuh yang dicintai, dan musibah yang dicari.
Pada tahun 586 Masehi, orang-orang Ferancis pernah menyelenggarakan sebuah konferensi untuk membahas masalah: Apakah manusia dianggap sebagi manusia atau tidak? Kalau ia punya ruh, maka apakah ruhnya itu ruh hewan atau ruh manusia, apakah ia sama dengan ruh hewan atau ruh laki-laki atau lebih rendah?
Akhirnya konferensi itu menghasilkan suatu kesimpulan, bahwa wanita adalah seorang manusia. Akan tetapi ia diciptakan untuk melayani kaum laki-laki saja.
(Haya binti Mubarok Al Barik, Ensiklopedi Wanita Muslimah)

Kenyataan di atas tentunya bertentangan dengan paham yang dianut oleh kaum feminis, yang jelas-jelas menuntut adanya kesetaraan gender dengan kaum laki-laki. Berdasarkan literatur tersebut, kita kaitkan teori-teori tersebut dengan kajian novel yang berjudul SOLD, Kenapa Aku Dijual?”

laporan baca novel first kiss


I. Identitas Buku
1.      Judul               : First Kiss
2.      Pengarang       : Leonita Easter Patricia
3.      Penerbit           : KATAKITA
4.      Kota terbit       : Depok
5.      Tahun terbit      : 2005
6.      Cetakan             : Ke dua
7. Ilustrasi sampul:  Sampul novel ini sangat menarik dan syarat dengan gaya remaja. Dibagian depan sampul terdapat gambar tiga orang remaja yakni dua orang laki-laki dan satu orang perempuan yang sedang duduk di tengah-tengah kedua laki-laki yang berdiri di belakangnya. Ke tiga orang tersebut mengenakan baju seragam SMA. Lalu di sebelah atas gambar ke tiganya terdapat judul First KISS yang berada dalam sebuah kotak dan diberi background warna hijau. Dimana tulisan First diwarnai dengan warna merah dan KISS dengan warna putih. Adapun warna background yang digunakan adalah warna merah, serta ditaburi oleh gambar bentuk bibir yang kecil-kecil.
Kemudian, di bagian belakang sampul terdapat foto pengarang beserta biodatanya didalam sebuah kotak. Lalu dibawah foto tersebut terdepat tiga kotak lain yang berisi opini mengenai isi novelnya dari beberapa orang yang cukup terkenal. Mereka adalah Butet Kartaredjasa (aktor dan pekerja seni), Nagita slavina (pemain sinetron), dan Doni Sibarani (Vokalis Ada Band). Keempat kotak tersebut diberi background warna hijau. Diluar dari kotak-kotak tersebut, penulis tetap menggunakan background warna merah yang ditaburi oleh gambar-gambar benruk bibir yang kecil
II. Cara Baca
Dalam membaca novel “First Kiss” ini saya tidak menetapkan cara baca yang seperti apa yang harus saya pakai. Terkadang saya membacanya sambil duduk dan terkadang juga saya membacanya sambil tidur-tiduran.
Adapun waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan membaca novel ini adalah sekitar satu minggu. Hal itu dikarenakan saya membacanya hanya pada waktu senggang.
III. Sinopsis
First Kiss adalah novel pertama dari dwilogi Fist KISS dan COZ I LOVE U karya penulis Leonita Easter Patricia. Novel ini menceritakan tentang kehidupan seorang remaja yng bernama Eliza. Eliza adalah seorang gadis pemberani yang baru masuk ke sekolah SMA The One. Seperti halnya di sekolah lain, disekolahnya pun diadakan sebuah acara yang bernama penataran P4, dimana acara itu dimaksudkan agar para murid baru bisa lebih mengenal lingkungan sekolah barunya. Acara itu diadakan selama satu minggu di bawah pimpinan OSIS.
            Hari demi hari Eliza lalui dengan hati yang ceria walaupun seperti biasa acara tersebut juga menjadi ajang bagi para kakak kelas untuk menjahili adik kelas barunya. Tetapi hal itu tidak membuat keceriaan Eliza pudar, karena Eliza bisa sering melihat Christhope, laki-laki yang sejak SMP telah ia sukai dan karena Christhopelah Eliza masuk ke SMA The One.
Suatu hari Eliza diberikan tantangan oleh kakak kelasnya yakni Alberto, untuk memakan satu mangkok bakso menggunakan sebuah garfu sampai habis. Hal itu sepintas memang mudah dilakukan, tapi yang membuat tantangan ini menjadi seru adalah ia harus memakannya berdua dengan Alberto. Karena ke gagah beraniannya, Eliza pun menerima tantangan itu. Sehingga sudah dapat di pastikan, seringkali bibir Eliza menyentuh bibir Alberto, dan itulah ciuman pertamanya yang direnggut oleh orang yang sama sekali tidak ia sukai.
Pada hari berikutnya terungkaplah sudah bahwa ternyata Christhope juga memiliki  perasaan yang sama dengan Eliza. Betapa senangnya hati Elisa pada saat itu, akhirnya ia bisa juga menyandang status sebagai pacar Christophe. Tetapi di sisi hatinmya yang lain  ia mulai menyukai Alberto, karena Alberto lebih perduli dan melindunginya dibandingkan Christophe. Terlebih lagi setelah ciumannya direnggut, ia menjadi sering memikirkan Alberto. Dan perasaannya itu semakin bertambah seiring dengan bertambahnya waktu.




IV. Tanggapan
Gaya bahasa yang digunakan oleh pengarang sangat sarat akan gaya remaja, sesuai dengan target pasar yang pengarangnya  pilih. Memang hal itu tidak dapat diperselahkan karena ia memilih gaya bahasa tersebut sesuai dengan targetnya, hanya saja yang penulis sayangkan adalah banyak beberapa kata yang tidak semua orang tahu, sehingga hal itu dapat membuat orang yang tidak mengetahui apa arti dari kata tersebut, menjadi tidak bias mencernanya dengan lancer.
Dalam hal cetakan sampul novel ini memang menarik sehingga membuat orang tertarik untuk membaca ceritanya. Lalu cetakan isinya pun sangat bagus, tidak dijumpai penulisan kata-kata yang salah, semuanya ditulis dengan rapih.
Adapun isi cerita novel ini memang ringan, sesuai dengan kehidupan remaja pada umunya. Selain ringan, cerita dari novel ini juga menarik sehingga membuat setiap orang yang membacanya ingin segera membaca kelanjutan dari novel tersebut yaitu pada novel COZ I LOVE U. 







resensi cerpen Kepada Tiankong, Langit yang Jauh

Identitas Cerpen
1. Judul : Kepada Tiankong, Langit yang Jauh
2. Pengarang : Naning Pranoto
3. Dimuat : Kompas 12/15/2002
4. Sumber : www.sriti.com/story_view

Cara dan Lama Baca
Dalam membaca cerpen Kepada Tiankong, Langit yang Jauh ini, saya membacanya sambil duduk, dan untuk menyelesaikan membaca cerpen ini, saya menghabiskan waktu sekitar tujuh menit.
Sinopsis
Cerpen berjudul Kepada Tiankong, Langit yang Jauh ini bercerita tentang pertemuan secara tidak sengaja antara seorang pemuda asal Indonesia dengan seorang gadis di sebuah pesawat terbang menuju Indonesia. Gadis itu berwajah sangat cantik dengan pakaian yang sangat sesuai ditibuhnya sehingga menarik perhatian setiap orang terutama bagi para laki-laki.
Tanpa diduga, ternyatab gadis itu duduk di samping kursi si Aku (si pemuda). Hal itu membuat jantung Aku berdetak sangat kencang, sehingga ia menjadi gugup dibuatnya. Keberuntungan bagi si Aku pun berlanjut, ternyata gadis itu ramah dan gadis itulah yang memulai pembicaraan diantara mereka.
Setelah pembicaraan berlangsung, ternyata diketahui bahwa gadis itu bernama Peony Wu, ia pergi ke Indonesia untuk mengunjungi Tian-Tiangkong untuk melaksanakan li, yaitu berbakti kepada keluarga. Tetapi tempat tujuan Peony membuat si Aku kebingungan, seumur hidup ia belum pernah mendengar tempat di Indonesia yang bernama Tian-Tiangkong. Untuk mengusir kebingungannya itu, ia pun menanyakannya pada Peony prihal Tian-Tiangkong tersebut.
ernyata Tian-Tiangkong itu berasal dari bahasa Mandarin yang berarti Langit. Tapi, bisa juga dimaknakan Surga atau Langit, Langit Yang Jauh...! Mendengar penjelasan singkat itu, si Aku tetap tidak mengerti maksud sesungguhnya, dan si Aku pun menanyakan kembali mengenai hal tersebut, lalu Peony pun menjelaskannya kembali.
Dahulu Di kota Batu-Malang nenekn Peony lahir, dibesarkan dan menikah serta punya tiga anak. Setelah menikah, ia dagang palawija, di Surabaya. Waktu perang kemederkaan ia menyumbangkan dagangannya untuk dapur umum, memberi makan para pejuang. Itu, karena kecintaannya terhadap Indonesia. Ironisnya, tahun '62, ia dipulangkan oleh pemerintah Indonesia ke Tiongkok, karena ia tidak mau ganti nama Indonesia. Akhirnya ia terkena PP-10.
Karena PP-10 itu neneknya kembali ke Tiongkok. Karena ia lahir dan besar di Indonesia, maka ia merasa asing terhadap Tiongkok. Keterasingannya itu membuatnya gamang dalam menjalani hidup,di Tiongkok, apalagi ketika Mao Zedong memproklamirkan Revolusi Kebudayaan. Neneknya sempat gila karena disiksa oleh student yang menjadi Red Guard Mao. Itu, gara-gara nenekmya penganut Kong Hu Chu yang taat. Untung, ia bersama sepupunya berhasil melarikan diri ke Macao. Tetapi kedua anaknya hilang. Yang hidup tinggal ibunya yang kemudian menikah dengan orang Portugis
Neneknya meninggal dua bulan yang lalu, usianya 78 tahun. Ketika ia dipulangkan ke Tiongkok, usianya 38 tahun. Jadi, selama 40 tahun ia merindukan Indonesia yang disebutnya sebagai Langit Yang Jauh. Ia menyebut demikian karena untuk ke Indonesia baginya tidak mudah. Ia takut, kedatangannya ditolak pemerintah Indonesia. Maka, ia lalu berpesan, ketika meninggal minta dikremasi dan abunya ditaburkan di Gunung Sriti-Batu. Katanya, tempat itu sangat indah bak surga. Di Gunung Sriti ia punya kenangan manis, bertemu dengan seorang pemuda yang kemudian menjadi suaminya. Sayangnya, suaminya itu tidak mau menyertainya kembali ke Tiongkok. Ia memilih tinggal di Indonesia, mengganti namanya dengan nama Indonesia dan kemudian ia menikahi perempuan Boyolali. Kabarnya, ketika meletus G 30 S PKI, suami nenek Peony dibunuh dengan cara yang keji oleh penduduk setempat, karena ia dituduh PKI! Tapi, bagaimanapun nenek Poeny tetap menganggap Indonesia adalah Tiankong, sebuah Surga dan ia ingin menjadi salah satu penghuninya
Akhirnya si Aku pun mengerti maskud dan tempat Tian-Tiangkong, lalu Poeny pun mengajak si Aku ke Batu-Malang, untuk melaksanakan li bagi neneknya. 

Tanggapan

Cerpen ini memang sangat menarik dan memberikan banyak pelajaran bagi para pembacanya. Kita bisa mengetahui keadaan pada saat zaman setelah kemerdekaan dan bagaimana kehidupan yang dialami oleh warga-warga keterununan. Adapun tema cerpen ini adalah mengenai kerinduan.
Gaya bahasa yang digunakan oleh pengarang memang sederhana tetapi syarat akan makna. Para tokohnya pun seperti Aku, Peony Wu, dan nenek digambarkan secara jelas sehingga pembacanya bisa membayangkan bagaimana sosok dari para tokohnya. Aku adalah seorang pemuda biasa yang mudah tertarik pada wanita cantik serta memiliki sifat malu-malu. Poeny Wu digambarkan sebagai sosok wanita yang ramah, modis dan sangat cantik. Sedangkan nenek adalah seorang wanita tangguh, berpendirian dan sangat cinta Indonesia.
Alur dari cerpen ini bersifat mundur karena inti cerita ini adalah mengenai nenek Poeny Wu dan hal itu terjadi pada zaman dahulu, sehingga si penulis menggunakan cara penyampaiannya dengan cara Poeny Wu menceritakan kembali mengenai kehidupan neneknya kepada si Aku (pemuda). Adapun alur lengkapnya adalah sebagai berikut.
• Masuknya Poeny Wu ke dalam pesawat
• Bersebelahannya tempat duduk Poeny Wu dengan si Aku
• Dimulainya pembicaraan diantara kedunya
• Penceritaan mengenai nenk Poeny Wo dari semenjak ia dipulangkan sampai akhirnya meninggal
• Pelaksanaan li bagi neneknya di Batu-Malang
Adapun sudut pandang yang digunakan oleh pengarang ialah sudut pandang orang pertama dimana hal itu cukup bagus, membuat para pembacanya seolah-olah dapat terlibat langsung ke dalam cerita tersebut.Adapun amanat yang dapat saya petik adalah kita harus cinta dan bangga akan tanah air kita Indonesia, seperti yang dirasakam oleh nenek Peony. Karena Indonesia merupakan Negara yang memiliki kekayaan alam yang sangat indah bagaikan di Tian-Tiangkong
Cerpen ini memang sangat bagus umtuk dibaca oleh semua kalangan karena sangat merik dan mengandung bayak pelajaran yang dapat dipetik darinya.

APRESASI PUISI “DERAI-DERAI CEMARA” ita sartka


APRESASI PUISI “DERAI-DERAI CEMARA”
Oleh Ita Sartika
1.      Apresiasi Tingkat Satu

DERAI-DERAI CEMARA
Karya Chairil Anwar

cemara menderai sampai jauh
terasa hari akan jadi malam
ada beberapa dahan ditangkap rapuh
dipukul angin yang terpendam

aku sekarang orangnya bisa tahan
sudah beberapa waktu bukan kanak lagi
tapi dulu memang ada suatu bahan
yang bukan dasar perhitungan kini

hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah

1949



Hal pertama yang membuat penulis tertarik setelah membaca puisi “Derai-derai Cemara” adalah gaya bahasa pengarang dalam puisi ini yang berbeda dari puisi-puisi lainnya. Dimana dalam puisi ini rimanya lebih teratur tidak seperti dalam pusi-pusi Chairil lainnya, misalnya dibandingkan dengan puisi “Aku”. Selain itu uga puisi ini memberikan kesan yang sangat dalam bagi penulis, mulai dari bait pertama sampai bait terakhir.
Pada bait pertama memberikan kesan bahwa bait itu bercerita mengenai kondisi sang penyair yang semakin memburuk, seperti yang tergambar pada setiap larik-lariknya. Dalam kondisinya itu digambarkan pada setiap larik-lariknya, dimana hal itu digambarkan mengenai diri penyair itu sendiri yang digambarkan sebagai sebuah cemara, dan daunnya itu telah menderai dan dahan-dahannya telah merapuh.
Pada bait kedua kesan yang dapat penulis ambil adalah mengenai perasaan pengarang yang memang bisa tahan menghadapi kondisinya itu, karena ia memang sudah dewasa seperti yang terlukis pada larik ke satu dan ke dua. Walupun sebenarnya kondisinya yang ia rasakan itu tak pernah ia bayangkan sebelumnya, hal ini tergambar pada bait ke tga dan ke empat.
Pada bait terakhir kita dapat menafsirkan bahwa akhirnya penyair menyerah, setelah sebelumnya ia berjuang dan mengerti bahwa sesungguhnya hidup hanya menunda kekalahan alias kematian, serta setiap manusia pasti akan menghadapi kematian.

2.      Apresiasi Tingkat Dua
Pada tahap apresiasi kedua ini penulis akan mengapresiasi puisi “Derai-derai cemara” ini menggunakan pendekatan mengenai unsur intrinsik dan ekstrensik yang ada didalamnya.
                                    Unsur Intrinsik Puisi “Derai-derai Cemara”
Tema puisi “Derai-derai Cemara” ini menurut penulis adalah mengenai penyerahan Chairilr terhadap takdir. Karena hal itu didasarkan pada penegasan Chairil pada bait terakhir yang berbunyi:
hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah
Adapun gaya bahasa yang digunakan oleh penyair dalam puisinya ini, banyak menggunakan maas personifikasi, seperti pada bait pertama larik terakhir (dipukul angin yang terpendam), dimana pada bait tersebut  kata angina yang sesungguhnya merupakan benda mati digambarkan seolah-olah hidup sehingga ia bisa memukul.
Puisi ini menggunakan pencitraan penglihatan, dimana saat kita membaca puisi ini kita diajak oleh pengarang seolah-olah melihat sesuatu yang ada dalam pusisi tersebut. Misalnya pada bait pertama yang berbunyi:
cemara menderai sampai jauh
terasa hari akan jadi malam
ada beberapa dahan ditangkap rapuh
dipukul angin yang terpendam
Pengarang merangsang imajinasi kita seolah-olah  melihat daun cemara yang menderai serta dahan-dahannya yang telah rapuh.
Dalam puisi ini Chairil menggunakan rima yang beraturan yakni a-b a-b, dan hal itu secara konsisten ia terapkan dari awal puisi hingga akhir puisi. Selain itu dalam puisi ini Chairil mengamanatkan kepada kita semua bahwa sesungguhnya kita harus bisa menerima takdir yang telah ditetapkan oleh Tuhan.
            Unsur Ekstrensik Puisi “Derai-derai Cemara”
Chairil dalam puisinya ini menunjukkan kelebihannya dalam memilih kata-kata yang tidak biasa orang lain gunakan tetapi memberikan kesan yang dalam pada setiap pembacanya. Selain itu juga dalam puisinya ini memiliki kelabihan tersendiri dibanding puisi-puisi lainnya yakni mengenai rimanya yang teratur berbeda dengan puisi-puisi lainnya.
Puisi ini juga baik dibaca oleh masyarakat umum tidak hanya kalangan “sastra” saja, yang pada saat ini masyarakat kita cenderung bekerja keras tetapi lupa kepada penciptanNya. Puisi ini dapat mengajarkan mereka bahwa sesungguhnya sekeras apapun kita berusaha atau bekerja tetap saja semua jalan hidup dan keputusan ada di tanganNya. Bahkan seorang Chairil pun akhirnya menyerah juga pada Tuhan di akhir hayatnya.