This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Search This Blog

Thursday, 7 April 2011

Strategi Belajar Bahasa Indonesia


Jika kita merasa pusing saat mempelajari sesuatu tetapi tidak dapat menangkap maknanya, berarti kita belum menemukan strategi yang cocok untuk mempelajari hal itu. Betapa riangnya, seorang anak ketika berusaha menemukan sesuatu dalam suatu konsep yang dia pelajari, ternyata didapatkannya dengan cepat dan tepat. Ketepatan dan ketidaktepatan dalam belajar ditentukan oleh strategi belajar yang diterapkan.
Strategi belajar mengacu pada prilaku dan proses berpikir siswa yang mempengaruhi apa yang dipelajari, termasuk proses mememori dan metakognitif. Strategi adalah operator-operator koginitif yang langsung terlibat dalam menyelesaikan tugas belajar. Dalam penyelesaian belajar itu terdapat karakteristik belajar masing-masing individu. Dari karakteristik itu dapat digambarkan jenis utama strategi belajar.
Jenis utama strategi belajar terdiri dari:
1.      Strategi Mengulang
1.      Mengulang sederhana
Strategi mengulang sederhana digunakan untuk sekedar membaca ulang materi tertentu hanya untuk menghafal saja(contoh menghafal nomor telepon, arah tempat, waktu tertentu, daftar belanjaan). Memori yang sudah ada di pikiran dimunculkan kembali untuk kepentingan jangka pendek, seketika, dan sederhana.
2.      Mengulang kompleks
Penyerapan bahan yang lebih kompleks memerlukan strategi mengulang yang kompleks. Menggarisbawahi ide-ide kunci, membuat catatan pinggir, dan menuliskan kembali inti informasi yang telah diterima merupakan bagian dari mengulang kompleks.
2.      Strategi Elaborasi(PQ4R)
Elaborasi adalah proses penambahan rincian sehingga menjadi informasi baru akan menjadi lebih bermakna. Dengan strategi elaborasi, pengkodeaan lebih mudah dilakukan dan lebih memberikan kepastian. Strategi ini membantu pemindahan informasi baru dari meori di otak yang bersifat jangka pendek ke jangka panjang dengan menciptakan hubungan dan gabungan antara informasi baru dengan yang pernah ada.
Beberapa bentuk strategi Elaborasi adalah pembuatan catatan, analogi, dan PQ4R. Pembuatan Catatan adalah strategi yang menggabungkan informasi yang dipunyai sebelumnya dengan informasi baru yang di dapat memlalui poroses mencatat. Dengan mencatat siswa dapat menuangkan ide baru dari pencampuran dua informasi itu. Kemudian, Analogi merupakan cara belajar dengan perbandingan yang dibuat untuk menunjukkan persamaan antara ciri pokok benda atau ide, misalnya otak kita mirip dingan komputer yang menerima dan menyimpan informasi. PQ4R (Preview = membaca selintas dengan cepat, Question=bertanya, Read = membaca, Reflect = merefleksi, dan review = mengulang secara menyeluruh) merupakan strategi yang digunakan untuk membantu siswa mengingat apa yang mereka baca. PQ4R merupakan strategi yang terbukti efektif dalam membantu siswa menghafal isi bacaan.
3.      Strategi Organisasi
Strategi organisasi membantu pelaku belajar meningkatkan kebermaknaan bahan-bahan baru dengan struktur peongorganisasian baru. Strategi organisasi terdiri atas pengelompokan ulang ide-ide atau istilah menjadi subset yang lebih kecil. Strategi ini berperan sebagai pengidentifikasian ide-ide atau fakta kunci dari sekumpulan informasi yang lebih besar.
Bentuk strategi organisasi:
1.      Outlining(membuat garis besar), Siswa menghubungkan berbagai macam topik atau ide dengan beberapa ide utama.
2.      Mapping (Pemetaan Konsep), Dalam beberapa hal lebih efektif daripada outlining.
3.      Mnemonic (membentuk kategori khusus), Secara teknik dapat diklasifikasikan sebagai strategi elaborasi dan organisasi. Menemonic membantu mengorganisasikan informasi menjadi memori kerja dengan membentuk asosiasi yang secara alamiah tidak bisa terjadi. Strategi Mnemonic terdiri atas pemotongan, akronim, dan kata berkait.
4.      Strategi Metakognitif (“Learning How To Learn”)
Metakognitif berhubungan dengan dengan berpikir siswa tentang berpikir mereka dan kemampuan menggunakan strategi belajar dengan tepat. Metakognitif mempunyai dua komponen, yaitu pengetahuan tentang kognisi dan mekanisme pengendalian atau monitoring kognisi. Metakognitif mementingkan ”belajar bagaimana belajar”( Learning how to learn).

Pendekatan Belajar Bahasa Indonesia


1.      Pembelajaran Bahasa Masyarakat (Community Language Learning)
Pendekatan ini berakar pada psikoterapi, yang memposisikan guru sebagai konselor dan siswa sebagai klien. Konselor bertugas menghilangkan perasaan negatif. Ia bersifat fasilitatif, ramah, penuh pengertian, dan mendukung penuh kliennya. Untuk mendukung pembelajaran dibutuhkan SARD, yakni security (rasa aman), attention-agression(atensi-agresi), retention-reflection (retensi-refleksi), dan descrimination (deskriminasi). Dalam pendekatan ini kelas diajukan dalam kelompok kecil, yakni sekitar 6-12 orang.
2.      Respon Fisik Total (Total Physical Respon)
Pendekatan ini berakar pada pandangan bahwa asimilasi informasi dan keterampilan dapat ditingkatkan secara signifikan bila sistem sensori kinestetik dimanfaatkan secara optimal. Dalam pendekatan ini pembelajar harus membekali diri dengan keterampilan komprehensi dulu sebelum menguasai keterampilan produksi. Kelas dirancang dalam ukuran kelompok kecil, yakni 20-25 orang. Supaya sistem sensori kinestetik optimal, pembelajaran banyak dilakukan dalam bentuk perintah-perintah.
3.      Pendekatan Alamiah (Natural Approach/NA)
Pendekatan ini berpandangan bahwa penguasan bahasa lebih banyak bertumpu pada konteks yang alamiah dan bukan pada konteks yang formal ilmiah. Pendekatan ini juga berpandangan bahwa dalam pembelajaran bahasa yang utama ialah mencapai kompetensi komunikatif. Kesalahan tidak harus dihujat karena kesalahan merupakan proses dalam pembelajaran untuk menuju pada penguasaan bahasa yang baik. Model teoretis pendekatan alamiah bersandar pada lima hipotesis Krashen, yakni hipotesis pembelajaran-pemerolehan, hipotesis urutan alamiah, hipotesis monitor, hipotesis masukan, dan hipotesis filter afektif.
4.      Pendekatan Diam (Silent Way, SW)
Pendekatan diam berpandangan bahwa dalam pembelajaran bahasa selayaknya kita mengandlalkan kekuatan-dalam yang ada pada diri siswa. pembelajaran bahsa tidak harus dengan pengulangan ataupun imitasi. Penganut pendekatan ini juga yakin bahwa pembelajaran harus berpusat pada anak, bahkan sangat ekstrem, guru harus diam, anak yang harus berbicara dan bekerja keras. Dalam pendekatan diam diam ini guru dapat menggunakan media (1) seperangkat kayu dengan ukuran dan warna yang berbeda-beda; (2) beberan Fidel; (3) beberan dinding; (4) pita dan alat rekaman, film, transparansi, gambar; dan (5) teks dan buku cerita; dan (6) antologi.
5.      Sugestopedia
Pendekatan ini berlandaskan pada sugestologi, yakni konsep yang berpendapat bahwa manusia dapat diarahkan untuk melakukan sesuatu dengan diberikan sugesti kepadanya. Pikiran dibuat setenang-tenangnya, santai, dan terbuka sehingga merangsang saraf penerimaan otak pembelajar. Oleh sebab itu, dalam pelaksanaan pembelajaran dianjurkan pembelajar menggunakan musik pengiring yang selaras, yang tenang, seperti musik klasik Barat atau musik klasik Jawa. Juga dianjurkan untuk mencapai ketenangan itu dengan melakuakan yoga.

Teori Belajar Bahasa Indonesia


1.      Teori Disiplin Mental
Teori Disiplin Mental (Plato, Aristoteles) berpandangan bahwa dalam belajar, pembelajaran didisiplinkan atau dilatih. Perkembangan anak terjadi akibat proses pelatihan yang dilakukan terus menerus. Teori ini selanjutnya berkembang menjadi teori behavioristik. Belajar dapat berhasil apabila mental seseorang didisiplinkan melalui kebiasaan yang ketat. Seseorang pandai berperang karena memang didisiplinkan dalam berperang. Konsep pembiasaan amat berperan dalam teori tersebut.
Pembelajar berada dalam posisi pasif dalam penentuan program belajar. Yang aktif dalam penyusunan program belajar adalah guru. Siswa harus aktif mengikuti konsep pendisiplinan yang telah dirancang guru secara mekanistis. Secara mekanistis pula siswa mengalami perkembangan belajar.
Perkembangan belajar siswa tidak terjadi secara alamiah, tetapi terbentuk dan terpola oleh program pendisiplinan mental yang telah ditentukan oleh guru atau penanggung jawab program. Hafalan, pembiasaan, pengulangan, dan penekanan, merupakan hal teramat penting dalam teori belajar ini.
2.      Teori Pengembangan Alamiah
Setiap anak akan berkembang secara alamiah sehingga proses belajar pun berlangsung secara alamiah pula. Dalam perkembangannya anak akan mencapai tingkat kematangan untuk kemampuan-kemampuan tertentu. Anak akan mengalami proses belajar sesuai tingkat kematangannya.
Anak dipandang sebagai subjek yang berkembang sesuai dengan kematangannya. Belajar terjadi berdasarkan perkembangan itu sendiri. Aspek alamiah yang mendasarkan kualitas pribadi siswa menjadi orientasi utama dalam teori tersebut. Program belajar dikembangkan berdasarkan karanteristik dasar siswa.
3.      Teori Behavioristik
Kaum behavioris yakin bahwa belajar bahasa pada hakikatnya adalah masalah pembiasaan dan pembentukan kebiasaan. Dengan pola pikir bahwa dalam proses pembelajaran yang penting adalah stimulus dan respons dan adanya penguatan. Oleh sebab itu, dalam dunia pembelajaran bahasa teori itu melahirkan pendekatan audiolingual yang banyak memberikan pengulangan. Mereka yakin jika belajar bahasa itu dilakukan dengan pengulangan, maka kompetensi berbahasa itu akan dapat diperoleh.
4.      Teori Generatif (Kognitivisme dan Nativisme)
Kaum Nativis pada hakikatnya menafikan hadirnya hal-hal yang berbau mentalistik. Hal itulah yang kemudian banyak ditentang. Manusia bukanlah botol kosong yang dapat diisi semau-mau kita. Manusia adalah organisme yang mempunyai potensi-potensi. Kaum Nativis yakin bahwa anak sejak lahir sudah dikaruniai piranti pemerolehan bahasa (languange acquisition device) yang menurut McNeil berupa:
1.      kemampuan membedakan bunyi ujaran dengan bunyi yang lain dalam lingkungannya;
2.      kemampuan mengorganisasikan peristiwa bahasa ke dalam variasi yang beragam;
3.      pengertian adanya sistem bahasa tertentu yang mungkin dan sitem yang lain yang tidak mungkin;
4.      kemampuan untuk tetap mengevaluasi sistem perkembangan bahasa yang membentuk sistem yang mungkin dengan cara yang sederhana dari data kebahasaan yang diperoleh.
5.      Teori Humanistik/Teori Sosial
Proses belajar tidak hanya terjadi karena seseorang mendapatkan stimulus dari lingkungannya dan merseponnya tetapi terjadi pulan karena pelaku belajar berkomunikasi dnegan individu lainnya. Proses belajar terjadi karena komunikasi personal. Dalam diri pembelajar terjadi transaksi akibat komunikasi dua arah atau lebih yang masing-masing mkendapat kesempatan, baik selaku inisiator maupun merekasi komunikasi. Komunikasi itu dapat berlangsung secara akrab, intensif, dan mendalam.
Oleh karena itu, teori humanistik menjadi teori sosial, yang dikembangkan oleh Bandura. Dalam belajar berdasarkan teori sosial terdapat 4 fase yaitu:
1.      perhatian,
2.      retensi,
3.      reproduksi, dan
4.      motivasi.
Manusia akan belajar apa saja selama dia membutuhkan. Dia tidak peduli dengan kognitif yang aktual atau pengalamannya. Menurut Rogers, dalam konteks belajar yang diciptakan manusia akan belajar apa saja yang dia butuhkan. Konsep Roger tersebut saat ini memberikan perubahan besar bagi konsep pembelajaran yang bertumpu pada pembelajar. Pembelajaran itu sangat individual. Oleh karena itu, jika ingin berhasil dalam pembelajaran perhatikan kebutuhan individual dalam belajar.
6.      Teori Gestalt
Psikologi Gestald memandang unsur-unsur yang terlibat dalam proses belajar tidak terpisahkan tetapi merupakan totalitas dalam membentuk medan belajar. Oleh karena itu, Teori Gestald disebut pula dengan teori medan. Gestald berarti bentuk yang yang terdiri atas unsur-unsurnya. Beberapa unsur yang distrukturisasi dapat menghasilkan efek sinergis yang merupakan gestald. Teori ini dikembangkan oleh Lewin .
Menurut Lewin perubahan tingkah laku merupakan indikator hasil belajar. Diperoleh karena lingkungan yang disediakan difungsikan untuk memfasilitasi potensi internal yang terdapat dalam diri pembelajar. Lingkungan tidak secara langsung mengubah tingkah laku. Perpustakaan sekolah tidak akan berfungsi jika guru tidak memfungsikannya.

Analisis Kesalahan Berbahasa


Pengertian kesalahan, sumber dan penyebab kesalahan.
Makna kesalahan berbahasa bila dipandang dari sudut,
            *
guru, kesalahan berbahasa itu adalah suatu aib atau cacat cela bagi pengajaran bahasa,
             *siswa, menandakan bahwa pengajaran bahasa tidak berhasil atau gagal.
 Makna kesalahan berbahasa yang dijumpai dalam literatur analisis kesalahan berbahasa ialah kesalahan berbahasa itu hanya dikaitkan dengan kaidah bahasa atau tata bahasa saja, beda antara kesalahan berbahasa dengan kekeliruan berbahasa adalah kesalahan berbahasa disebabkan oleh faktor pemahaman, kemampuan kompetensi seseorang. Kekeliruan berbahasa terjadi karena lupa atau keliru dalam menerapkan kaidah bahasa, sifatnya tidakpermanen. Persamaannya adalah penyimpangan kaidah bahasa, sumber dan penyebab kesalahan berbahasa dalam pengajaran bahasa kedua maupun bahasa pertama terletak pada perbedaan sistem linguistik bahasa pertama dengan sistem linguistik bahasa kedua.
Analisis kesalahan berbahasa adalah suatu prosedur kerja yang biasa digunakan oleh peneliti atau guru bahasa, yang meliputi kegiatan mengumpulkan sampel kesalahan, mengidentifikasi kesalahan yang terdapat dalam sampel, menjelaskan kesalahan tersebut, mengklasifikasikan kesalahan itu dan mengevaluasi taraf keseriusan kesalahan itu.

4.1.1 Analisis Kesalahan belajar B2
Setiap permasalahan mempunyai ruang lingkup atau cakupan sendiri-sendiri. Demikian juga persoalan analisis kesalahan belajar B2. Untuk mengetahui ruang lingkup masing-masing, ikutilah penjelasan di bawah ini.
Ruang Lingkup Analisis Kesalahan
Anda pasti tahu bahwa setiap orang apakah dia orang tua, remaja, ataupun anak-anak, dalam kegiatan berkomunikasi lisan maupun tulis (menyimak, berbicara, membaca, dan menulis) setiap hari menggunakan bahasa. Dalam berkomunikasi dengan bahasa itu pasti membuat kesalahan. Kesalahan itu ada yang sistematis dan ada yang tidak sistematis. Dalam kaitannya dengan analisis kesalahan, yang disoroti adalah kesalahan yang bersifat sistematis. Kesalahan sistematis berarti kesalahan yang berhubungan dengan kompetensi. Kompetensi dalam pembicaraan ini adalah kemampuan pembicara atau penulis untuk melahirkan pikiran dan perasaannya melalui bahasa sesuai dengan kaidah bahasa yang berlaku. Bahasa yang digunakan itu berwujud kata, kalimat, dan makna yang mendukungnya. Kata dan kalimat berunsurkan bunyi-bunyi yang membedakan yang disebut fonem.
Memperhatikan penjelasan di atas, kesalahan yang perlu dianalisis mencakup tataran tata bunyi (fonologi), tata bentuk kata (morfologi) tata kalimat (sintaksis), dan tataran tata makna (semantik). Analisis kesalahan bidang tata bunyi berhubungan dengan kesalahan ujaran atau pelafalan, grafemik, pungtuasi, dan silabisasi. Analisis kesalahan dalam tata bentuk tentu saja kesalahan dalam membentuk kata terutarna pada afiksasi. Analisis kesalahan dalam bidang tata kalimat menyangkut urutan kata, kepaduan, susunan frase, kepaduan kalimat, dan logika kalimat. Dan yang berikutnya analisis kesalahan bidang semantik berkaitan dengan ketepatan penggunaan kata, frase atau kalimat yang didukung oleh makna baik makna gramatikal maupun makna leksikal.
Materi yang dibandingkan berhubungan dengan tata bunyi (fonologi), tata bentuk kata (morfologi), dan tata kalimat (sintaksis). Bidang tata bunyi berhubungan  dengan bunyi (fonem) dan pelafalannya. Bidang tata bentuk berhubungan dengan  imbuhan, kata dan pembentukannya. Bidang tata kalimat menyangkut urutan kata  dan frase dikaitkan dengan hukum-hukumnya (DM, MD). Untuk keperluan itu semua perlu adanya deskripsi yang jelas antara bahasa Bl dan B2.       
Objek analisis kesalahan adalah bahasa. Oleh sebab itu analisis kesalahan
dalam pembicaraan ini identik dengan analisis kesalahan berbahasa. Analisis kesalahan menitikberatkan analisisnya pada bahasa ragam formal. Seperti kita ketahui dilihat dari ragam pemakaiannya bahasa itu dibedakan atas bahasa ragam santai dan bahasa ragam formal. Bahasa ragam formal digunakan orang pada situasi formal seperti berpidato, berceramah, khotbah, berdiskusi, berseminar, berkongres, berkonferensi, bermusyawarah, dosen memberikan kuliah, guru mengajar di depan kelas, dan sebagainya yang jelas bahasa yang digunakan dalam situasi resmi.
Analisis kesalahan ditekankan pada proses belajar B2 (termasuk bahasa asing). Dengan demikian objek analisis kesalahan adalah bahasa siswa yang sedang mempelajari B2 atau bahasa asing. Objek yang lebih khusus lagi adalah kesalahan bahasa siswa yang bersifat sistematis dan menyangkut analisis kesalahan yang berhubungan dengan keterampilan berbahasa (menyimak, berbicara, membaca, dan menulis), tata bunyi, tata bentuk kata, tata kalimat, dan tata makna.
Sebagai seorang guru atau calon guru yang sedang berpraktik mengajarkan bahasa Indonesia, apabila diperhatikan dengan saksama, Anda akan menemukan kesalahan-kesalahan yang dibuat siswa. Kesalahan-kesalahan itu ternyata dapat Anda pilah dalam dua kategori, yaitu kategori kesalahan dalam bidang keterampilan dan kesalahan dalam bidang linguistik. Kesalahan yang berhubungan dengan keterampilan terjadi pada saat siswa menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Sedangkan kesalahan dalam bidang linguistik meliputi tata bunyi, tata bentuk kata, dan tata kalimat.
Temuan-temuan Anda ini sangat menarik dan segera diatasi agar proses belajar-mengajar berhasil dengan baik. Dengan demikian permasalahan yang ditangani analisis kesalahan berbahasa itu berkisar pada kesalahan dalam keterampilan berbahasa dan kesalahan dalam kebahasaan (linguistik).

4.1.2 Kebahasaan
         Kaitan antara pengajaran berbahasa, pemerolehan bahasa, kedwibahasaan, interferensi, dan kesalahan berbahasa.ssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssss
       1.  Pengajaran bahasa pertama dan pengajaran bahasa kedua ialah (1) pengajaran bahasa      pertama adalah pengajaran bersifat informal yang titik beratnya pada penguasaan bahasa ibu. (2) Sementara pengajaran bahasa kedua ialah kegiatan pemerolehan bahasa biasanya berlangsung melalui pengajaran bahasa yang bersifat formal yang berlangsung di sekolah, dapat juga berlangsung secara informal.aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
       2. Pemerolehan bahasa adalah pengajaran bahasa secara alamiah, tidak berencana, tidak disengaja dan tidak disadari. Contohnya anak kecil berumur satu tahun bisa berbicara seperti kakak-kakaknya atau orang tuanya dengan cara meniru dan mendengar.zzzzzzzzzzzzzzzzzz
      
3. Interferensi ialah terjadinya kekacauan pemakaian bahasa oleh dwibahasawan. Contohnya orang Dayak Ma’anyan tidak mengenal fonem /o/ sehingga dalam bahasa Indonesia sering terjadi kesalahan fonem /o/ diucapkan /u/.zzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz
      
4. Makna istilah dwibahasawan ialah orang menggunakan/menguasai dua bahasa atau lebih, sehingga saling mempengaruhi antara b1 dan b2. Contoh, bahasa Ma’anyan dan bahasa Indonesia (supir, bahasa Ma’anyan) (sopir, bahasa Indonesia).zzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz
      
5. Kesahan bahasa adalah transfer negatif yang menyebabkan timbulnya kesulitan dalam pengajaran b2 akibat dari sistem yang digunakan berlainan dalam penyampaiannya.
      
6. Kaitan antara pengajaran bahasa, pemerolehan bahasa, kedwibahasaan, interferensi dan kesahan bahasa oleh adanya umpan balik antara kelima unsur itu atau dengan kata lain semua unsur saling berhubungan dan saling berkaitan, sehingga merupakan satu kesatuan yang utuh.

4.1.3 Metodelogi (Langkah)
         Yang dimaksud dengan metodologi analisis kesalahan berbahasa adalah suatu prosedur atau langkah-langkah kerja analasis kesalahan berbahasa.
Langkah-langkah kerja analisis kesalahan berbahasa sebagai berikut :
(1) Mengumpulkan data kesalahan, maksudnya segala kesalahan yang terjadi di dalam proses   sssspembelajaran baik formal maupun nonformal perlu didata atau dicatat dan dikumpulkan.
 (2) Mengidentifikasi dan mengklasifikasikan kesalahan, kesalahan yang telah didata ssssdiidentifikasi kemudian diklasifikasikan sesuai tingkat keslahannya.
 (3) Mengurutkan kesalahan berdasarkan frekuinsinya, kesalahan itu dilihat dan diurutkan ssssberdasarkan tingkat keseringan terjadinya kesalahan.
 (4) Menjelaskan kesalahan, kesalahan yang terjadi setelah diurutkan dijelaskan sebab akibat ssssterjadinya keslahan.
 (5) Memprediksi tataran kebahasaan yang rawan kesalahan, memperkirakan bidang kebahasaan ssssmana yang sering terjadi kesalahan siswa.
 (6) Menagoreksi kesalahan, kesalahan yang ada dikoreksi atau diperiksa supaya dapat diambil aaaalangkah perbaikan selanjutnya.
         
Kesalahan-kesalahan berbahasa yang dibuat oleh siswa harus dicatat dengan teliti oleh guru karena berdasarkan hasil analisis kesalahan berbahasa tersebut dapat digunakan sebagai dasar dalam memperbaiki komponen proses belajar mengajar berbahasa berikutnya.
Data atau kesalahan berbahasa yang telah dibuat siswa diolah dengan cara:
(1) mengklasifikasikan jenis kesalahan,
(2) mengurutkan kesalahan berdasarkan frekuensinya,
(3) menggambarkan letak kesalahan dan memperkirakan penyebab kesalahan,
(4) memperkirakan atau memprediksi daerah atau butir kebahasaan yang rawan kesalahan,
(5) mengoreksi kesalahan atau memperbaiki kesalahan.


4.2 Klasifikasi Kesalahan
4.2.1 Klasifikasi  Penyimpangan Norma B2 (CORDER)
Corder (dalam Baraja, 1981:12) mengatakan bahwa analisis kesalahan itu mempunyai dua tujuan, yaitu tujuan teoretis dan tujuan praktis. Tujuan yang bersifat praktis tidak berbeda dengan tujuan analisis tradisional, sedangkan tujuan yang bersifat teoretis ialah adanya usaha untuk memahami proses belajar bahasa kedua. Bagi seorang guru, yang penting menemukan kesalahan itu kemudian menganalisisnya. Hasil analisis sangat berguna untuk tindak lanjut proses belajar-mengajar yang dilakukan.
Dengan memperhatikan tujuan di atas, seorang guru yang akan menerapkan analisis kesalahan tentu hams memiliki pengetahuan kebahasaan yang memadai. Dia harus paham benar tata bahasa yang baku dan berlaku. Misalnya tentang kebakuan pelafalari, tulisan (ejaan), bentukan kata, dan tata kalimatnya. Dalam hal ini guru dihadapkan pada dua persoalan, yaitu apa yang salah dan bagaimana memperbaikinya.



ANALISIS PSIKOLOGI DRAMA “BADAI SEPANJANG MALAM” KARYA MAX ARIFIN


 
ANALISIS PSIKOLOGI DRAMA “BADAI SEPANJANG MALAM”
KARYA MAX ARIFIN 
Oleh



Ita Sartika
        Drama ini memang sangat cocok untuk dikaji secara psikologi karena konflik utamanya merupakan konflik batin seorang tokoh utama yang bernama Jamil. Jamil bekerja sebagai seorang guru SD di sebuah desa terpencil. Awalnya ia memiliki idealisme tinggi untuk memajukan pendidikan di desa tersebut dan sangat tertarik dengan suasananya. Akan tetapi setelah beberapa tahun berlalu ia merasa bosan tinggal di desa yang sepi itu, karena memang sebelum dipindahtugaskan ke desa itu ia bertempat tinggal di sebuah kota yang ramai.
Suatu malam ia menunjukkan buku hariannya pada Saenah (istri Jamil). Buku harian tersebut berisi tentang kebosanannya tinggal di desa yang sunyi itu. Hal tersebut membuat tanda tanya besar di benak saenah akan kejujuran dan idealisme suaminya kini. Sehingga terljadilah pertengkaran diantara keduanya.
            Selain suasana sunyi desa itu terdapat pula factor lain yang membuatnya tidak betah yaitu terlalu bergantungnya masyarakat kepadanya dan istri sehingga setiap aspek kehidupannya disoroti oleh mereka. Akibatnya ia merasa tertekan menghadapi keadaan tersebut sehingga ia pun memutuskan untuk pergi dari desa.
Berdasarkan cerita diatas, kita dapat menyimpulkan dua konflik yang terjadi pada tokoh Jamil yakni pudarnya idealisme untuk memajukan masyarakat desa karena ia merasa tertekan oleh perlakuan masyarakatnya serta ketidaksesuaian prinsip Jamil yang menjungjung tinggi kejujuran pada hati nuraninya. Untuk lebih jelasnya mengenai hal tersebut berikut akan dijelaskan satu persatu konflik yang dialami Jamil.
2.2.1 Pudarnya Idealisme Tokoh Jamil
Sebelum kita mengkajinya lebih lanjut, hendaklah diketahui pengertian dari idealisme. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) idealisme diartikan sebagai aliran ilmu filsafat yang menganggap pikiran atau cita-cita sebagai satu-satunya hal yang benar, yang dapat dicamkan, dijadikan patokan, serta dianggap sempurna. Adapun menurut Ken Pradnya Paramitha, S.Psi (sarjana psikologi, Universitas Sanata Dharma Jogjakarta) mengatakan, idealisme seseorang terbentuk dari suatu konsep cara pandang serta nilai-nilai yang dipegang, yang akan menjadi sikap dan mendorong terbentuknya tingkah laku. Faktor pembentuk idealisme bisa berasal dari latar belakang seseorang, seperti pendidikan, nilai-nilai hidup, dan informasi yang diterima dari luar. Idealisme akan positif, jika nilai-nilai yang diserap merupakan hal positif pula. Idealism yang dimiliki Jamil juga bersifat positif dan sangat terpuji. Ia lebih memilih meningkatkan kualitas SDM di desa dibanding bekerja di kota yang bekerja hanya untuk menjadi seorang guru teladan atau mendapat penganugrahan lainnya. Akan tetapi mereka tidak memikirkan para siswa yang tinggal di desa yang sesungguhnya sangat membutuhkan mereka. Hal itu nampak pada kutipan berikut:
30.Jamil:
Aku bukan orang yang membutuhkan perhatian dan publikasi.Kepergianku ke sana bukan dengan harapan untuk menjadi guru teladan.Coba bayangkan,siapa pejabat yang bisa memikirkan kesulitan seorang guru yang bertugas di Sembalun,umpamanya?Betul mereka menerima gaji tiap bulan.Tapi dari hari ke hari dicekam kesunyian,dengan senyum secercah terbayang di bibirnya bila menghadapi anak bangsanya.dengan alat alat serba kurang mungkin kehabisan kapur,namun hatinya tetap di sana.Aku bukan orang yang membutuhkan publikasi,tapi ukuran ukuran dan nilai nilai seorang guru di desa perlu direnungkan kembali.Ini bukan ilusi atau igauan di malam sepi,Saenah.Sedang teman teman di kota mempunyai kesempatan untuk hal hal yang sebaliknya dari kita ini.Itulah yang mendorong aku,mendorong hatiku untuk melamar bertugas di desa ini.
PPPPSayangnya idealisme itu sedikit memudar akibat kebosanannya pada suasana sunyi desa yang tak seramai kota. Selain itu juga tokoh Jamil merasa sangat tertekan oleh perlakuan masyarakat yang menyoroti segala aspek kehidupannya. Bukan hanya itu, masyarakat desa juga terlalu bergantung padanya sehingga membuatnya semakin tertekan. Memang hal itu merupakan salah satu konsekuensi tinggal di desa bahkan sampai pada saat ini. Masyarakat desa selalu menganggap seorang guru itu ahli dalam segala bidang sehingga mereka selalu bergantung padanya. Tokoh Jamil memang menyadari hal tersebut adalah konsekuensinya tinggal di desa tetapi tetap saja ia merasa tertekan diperlakukan oleh masyarakatnya.
Pada saat-saat seperti itu, peranan seorang istri sangatlah diperlukan untuk membangkitkan idealisme suami. Saenah (istri Jamil) akhirnya bisa membangkitkan kembali idealisme suaminya dengan cara mengingatkan kembali saat pertama kali ia diajak pindah oleh Jamil, pemutaran kembali rekaman pidato kepala desa serta pengutipan kata-kata Leon Uris pengarang favoritnya.
2.2.2 Ketidaksesuaian Idealisme jamil dengan masyarakat
Tokoh Jamil sangat menjungjung tinggi kejujuran akan hati nuraninya sehingga ia sering sekali mengatakan tidak pada apapun yang tidak sesuai dengan hati nuraninya. Hal tersebut dapat dilihat dari kutipan berikut ini:
16.Jamil:
Apakah masih harus kukatakan bahwa aku telah berusaha berbuat jujur dalam semua tindakanku?Kau menyalahkan aku karena aku terlalu banyak bilang”Tidak” dalam setiap dialog dengan sekitarku.Tapi itulah hatiku yang ikhlas untuk ikut gerak langkah masyarakatku.Tidak,Saenah.Mental masyarakat seperti katamu itu tidak terbatas di desa saja, tapi juga berada di kota ini (dialog ke-16)
Akan tetapi pandangan Jamil itu ditolak oleh Saenah, karena ia berpendapat dibalik kejujuran yang dijunjung tinggi oleh Jamil itu terdapat sebuah sifat keras kepala.
15.Saenah:
Kini aku yang bertanya:jujurkah pada nuranimu sendiri?Penilaian terakhir ada pada hatimu.dan mampukah kau membuat semacam pengadilan yang tidak memihak kepada nuranimu sendiri?Karena bukan mustahil sikap keras kepala yang berdiri di belakang semuanya itu.Terus terang dari hari ke hari kita seperti terdesak dalam masyarakat yang kecil ini.
Salah seorang Psikolog terkemuka mengemukakan apabila seseorang memiliki idealisme, ia harus mampu menyeimbangkannya dengan realitas yang ada. Jika tidak, ia akan mengalami persinggungan terhadap realitas, yang mungkin menimbulkan frustrasi dalam diri atau bahkan terseret arus realitas. Frustrasi muncul sebagai dampak dari ketidakberhasilan dalam mendapatkan kondisi ideal. Kefrustasian itulah yang menimpa tokoh Jamil, ia tidak bisa menyeimbangkan idealismenya dengan realitas yang ada (dalam hal ini masyarakat) sehingga tokoh Jamil mengalami persinggungan dengan masyarakat atau seperti yang Saenah katakan bahwa Jamil tidak memahami masyarakatnya sendiri dan tidak bisa bergaul akrab dengan masyarakatnya. Yang pada akhirnya dia akan merasa tertekan berada di lingkungan masyarakat yang terlalu bergantung kepadanya.
17.Saenah:
Kau
PtidakPmemahamiPmasyarakatmu.
PPPPSebaiknya sebuah idealisme harus disesuaikan dengan realitas kehidupan masyarakat yang ada, serta menyerap nilai-nilai positif, menghindari pengaruh negative, serta tidak mempertahankan idealisme secara berlebihan.
2.3 Sikap Pengarang
          Max Arifin (lahir dengan nama Mohammad Arifin di Sumbawa Besar, 18 Agustus 1936, meninggal dunia di Rumah sakit Sido Waras, Bangsal, KabupatenMojokerto, 1 Maret 2007) adalah seorang tokoh teater Indonesia. Semasa hidupnya hingga akhir hayatnya ia bekerja sebagai pegawai negeri di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Nusa Tenggara Barat, di Mataram, Lombok. Berdasarkan hal tersebut, drama “Badai Sepanjang Malam” ini mungkin terinspirasi oleh pengalamannya dan hal tersebut ia tuangkan dalam drama ini.
          Terdapat tiga pesan yang ingin disampaikan oleh Max Arifin dalam drama ini. Pertama, agar setiap orang mengetahui keadaan pendidikan di desa terpencil yang sangat membutuhkan tenaga pengajar sehingga diharapkan setelah menonton drama ini timbul ketertarikan masyarakat untuk memajukan masyarakat desa. Kedua, pengarang ingin semua orang mengetahui apa saja yang dialami oleh seorang guru yang bertugas di desa terpencil sehingga muncullah penghargaan yang tinggi pada semua guru yang bertugas di desa. Ketiga, pengarang ingin menyampaikan bahwa betapa pentingnya pembicaraan dengan orang lain untuk mengatasi masalah yang kita hadapi. Karena tak jarang banyak masalah yang terselaikan setelah terjadinya pembicaraan dengan orang lain (sharing) seperti halnya yang dialami oleh tokoh Jamil

ANALISIS SOSIOLOGI SASTRA DRAMA “OEDIPUS” KARYA ANDRE GIDE


ANALISIS SOSIOLOGI SASTRA
DRAMA “OEDIPUS” KARYA ANDRE GIDE
Oleh Cynthia Ratna N
 

Konteks Sosial Pengarang

Karya Gide dapat dilihat sebagai suatu penyelidikan kebebasan dan pemberdayaan dalam menghadapi kendala moral dan puritan, dan upaya terus menerus untuk mencapai kejujuran intelektual. Eksplorasi dirinya mencerminkan teks pencarian bagaimana caranya untuk dapat sepenuhnya diri sendiri, bahkan sampai memiliki sifat seksual seseorang, tanpa pada saat yang sama mengkhianati nilai-nilai seseorang.


Konteks Sosial Karya Sastra


Drama ”Oedipus” karya Andre Gide menceritakan mengenai Oedipus, yang menikahi ibunya sendiri karena ketidaktahuannya. Selain itu kedua putra Oedipus, juga ternyata menyatakan niat mereka untuk menikahi saudara perempuan mereka sendiri.  Polinices menyatakan bahwa ia ingin menikahi AntigoneTentu saja Antigone sangat menolak hal ini. Hal tersebut dapat dilihat dalam kutipan dialog Antigone dan Polinices berikut ini.
(Kutipan)

Sementara, Eteocles mengatakan pada Polinices bahwa ia ingin tidur dengan Ismene. Hal ini dapat dilihat dalam kutipan percakapan Eteocles dengan Polinices berikut ini.
(Kutipan)

Perkawinan sendiri menurut KBBI (2008) adalah perihal (urusan dsb) kawin; pernikahan. Kata dasar dari perkawinan, yaitu kawin sendiri berarti membentuk keluarga dng lawan jenis; bersuami atau beristri; menikah (KBBI,2008). Sementara, perkawinan sedarah atau perkawinan sekerabat, dalam KBBI (2008) berarti perkawinan yg dilakukan di antara individu yg masih ada pertalian darah.
Hubungan sedarah atau incest dapat juga diartikan sebagai hubungan saling mencintai yang bersifat seksual yang dilakukan oleh pasangan yang memiliki ikatan keluarga (kekerabatan). Hubungan seperti ini  berpotensi tinggi menghasilkan keturunan yang secara biologis lemah, baik fisik maupun mental, bahkan mematikan.
Incest telah terjadi zaman dahulu. Raja-raja Mesir kuno dan para keturunannya serimgkali melakukan incest untuk meningkatkan kualitas keturunannya. Selain itu motif lain melakukan incest adalah untuk mendapatkan keturunan berdarah murni dan melanggengkan kekuasaan. Hal ini sering terjadi pascainvasi Alexander the Great (Iskandar Zulkarain) ke Mesir. Contohnya adalah perkawinan Ptolemeus II dengan saudara perempuannya, Elsione. Dalam mitologi Mesir Kuno pun, Dewa Osiris pernah menikahi saudarinya sendiri yaitu Dewi Iris. Lalu dalam mitologi Yunani, terdapat kisah bahwa Dewa Zeus menikah dengan Hera, kakak kandungnya sendiri.
Dari legenda di Indonesia pun terdapat contoh-contoh hubungan tidak biasa ini. Diantaranya hubungan sedarah  antara Sangkuriang dan ibunya sendiri yaitu Dayang Sumbi dan  dalam dongeng masyarakat Sunda yaitu antara Prabu Watugunung dan ibunya yang bernama Sinta.
Lustig (Sawitri Supardi: 2005) mengemukakan faktor-faktor penyebab incest, yaitu:
1.      Keadaan terjepit, dimana anak perempuan manjadi figur perempuan utama yang mengurus keluarga dan rumah tangga sebagai pengganti ibu.
2.      Kesulitan seksual pada orang tua, ayah tidak mampu mengatasi dorongan seksualnya.
3.       Ketidakmampuan ayah untuk mencari pasangan seksual di luar rumah karena kehutuhan untuk mempertahankan facade kestabilan sifat patriachat-nya.
4.      Ketakutan akan perpecahan keluarga yang memungkinkan beberapa anggota keluarga untuk lebih memilih desintegrasi struktur daripada pecah sama sekali.
5.      Sanksi yang terselubung terhadap ibu yang tidak berpartisipasi dalam tuntutan peranan seksual sebagai istri.
6.       Pengawasan dan didikan orangtua yang kurang karena kesibukan orang bekerja mencari nafkah dapat melonggarkan pengawasan oleh orangtua bisa terjadi incest.
7.      Anak remaja yang normal pada saat mereka remaja dorongan seksualnya begitu tinggi karena pengaruh tayangan yang membangkitkan naluri birahi juga ikut berperan dalam hal ini.

Semua agama di dunia melarang hubungan sedarah. Di dalam aturan agama Islam,  dikenal konsep muhrim yang mengatur hubungan sosial di antara kerabat. Terdapat 14 golongan waita yang tidak halal dinikahi yang terbagi ke dalam empat golongan sebagai berikut (Hamid, 1999: 238).

1.      Tujuh orang dari sebab nasab (keturunan)
Ibu, ibunya ibu, ibu dari bapak sampai garis keturunan ke atas dan seterusnya.
Anak, cucu, dan keturunan ke bawah dan seterusnya
Saudara wanita seibu-bapak atau seibu/sebapak saja
Saudara wanita dari bapak
Saudara wanita dari ibu
Anak wanita dari saudara lelaki, dan seterusnya
Anak wanita dari saudara perempuan, dan seterusnya
2.      Dua orang dari sebab radla’ah (susuan)
Ibu yang menyusui sekalipun bukan ibu kandung
Saudara wanita satu susuan
3.      Empat orang dari sebab mushaharah (perkawinan)
Ibu dari istri (ibu mertua)
Anak tiri, apabila ibunya sudah pernah digauli
Istri dari anak
Ibu dari bapak
4.      Satu orang dari sebab ja’ma (berkumpul)
Yaitu saudara wanita dari istri.

Hal ini dijelaskan dalam surat An-Nisa ayat 23, yang terjemahannya adalah sebagai berikut:
Diharamkan atas kamu (mengawini)  ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan; saudara-saudara bapakmu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu istrimu (mertua); anak-anak istrimu yang dalam pemeliharaanmu dari istrimu yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur demgan istrimu itu (dan sudah kamu ceraikan) maka tidak berdosa kamu mengawininya. (Dan diharamkan bagimu) istri-istri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang terjadi pada masa lampau, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. An-Nisa ayat 23)

Sementara itu, perkawinan sedarah yang terjadi pada Oedipus dengan Jokasta adalah karena ketidaktahuan Oedipus bahwa Jokasta adalah ibunya. Hal ini dapat dilihat dalam kutipan berikut ini.
(Kutipan)

Sementara keinginan Eteocles dan polinices untuk menikahi Ismene dan Antigone disebabkan karena mereka masih remaja dan dorongan seksualnya begitu tinggi. Dapat dilihat dalam kutipan berikut ini.
(Kutipan)