This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Search This Blog

Sunday, 8 May 2011

analisis perubahan bunyi pada pelafalan lagu anak-anak


BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Semua manusia mempunyai kemampuan berbicara atau bertutur, kecuali bagi seseorang yang mempunyai “kekhususan” misalnya tuna wicara atau tuna rungu. Kemampuan berbicara atau bertutur ini diperolehnya secara berjenjang sesuai dengan tingkatan usianya yaitu sejak bayi, anak-anak, remaja, dan dewasa. Setiap tingkatan tersebut biasanya memiliki kemampuan berbicara yang berbeda-beda, misalnya pada tingkatan anak-anak.
Anak-anak sering mengalami kegagalan dalam membunyikan perkataan dengan benar. Hal itu dapat kita lihat melalui ucapan anak itu pada saat ia menyanyikan sebuah lagu.
Untuk itu penulis akan melakukan penelitian terhadap sebuah lagu anak-anak yang berjudul ”Anak Baru” oleh Gita Callista, seorang anak yang berumur empat tahun.

1.2 Batasan Masalah
Dalam makalah ini penulis akan membatasi masalah agar mudah dipahami. Jadi, di dalamnya hanya membahas masalah mengenai transkripsi fonetis yang diucapkan oleh seorang anak berusia empat tahun yang bernama Gita Callista, transkripsi data yang sesuai dengan ejaan yang disempurnakan (EYD) atau sering disebut dengan transkripsi ortografi., perubahan-perubahan bunyi yang dilakukan oleh anak tersebut, bunyi pengiring yang mengikuti bunyi utama yang ia hasilkan dan  faktor-faktor yang mempengaruhinya.
1.3 Rumusan Masalah
1) Bagaimana transkripsi fonetis lagu yang berjudul ”Anak Baru” yang di ucapkan oleh Gita Callista?
2) Bagaimana transkripsi data sesuai Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan (EYD)?
3) Perubahan bunyi apa saja yang diucapkan  oleh Gita Callista dalam lagu yang berjudul ”Anak Baru” ?
4) Adakah bunyi pengiring yang dihasilkan saat bunyi utama di ucapkan?
5)  Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi pengucapan lirik lagu oleh Gita Callista?
1.4 Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk memberikan penjelasan mengenai transkripsi fonetis lagu yang berjudul ”Anak Baru” yang di ucapkan oleh seorang anak yang berusia empat tahun, transkripsi data yang sesuai dengan Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan (EYD) atau transkripsi ortografi, perubahan-perubahan bunyi yang terjadi, bunyi pengiring yang menyertai bunyi utama, serta faktor-faktor yang mempengaruhinya.

1.5 Manfaat
Adapun manfaat dari penulisan makalah ini adalah agar semua pihak dapat memahami dengan jelas mengenai bunyi-bunyi yang dihasilkan oleh anak usia empat tahun.

1.6 Landasan Teori
Transkripsi fonetis adalah perekaman bunyi dalam bentuk lambang tulis. Lambang bunyi atau lambing fonetis yang dipakai adalah lambing bunyi yang di tetapkan oleh The International Phonethic Assosiation (IPA). Sedangkan transkripsi ortografi adalah transkripsi atau tulisan yang di buat untuk di gunakan secara umum di dalam masyarakat suatu bahasa. Di Indonesia, transkripsi ortografi ini harus sesuai dengan kaidan Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan (EYD). (Chaer, 2007; 112-114 )
Muhlish (2008; 42) mengatakan kasus pengucapan bunyi yang tidak sesuai dengan EYD memang sering sekali terjadi di masyarakat. Adapun jenis-jenis dari perubahan bunyi tersebut adalah Asimilasi, Disimilasi, Modifikasi Vokal, Netralisasi, Zeroisasi, Metatesis, Diftongisasi, Monoftongisasi, dan Anaptiksis.
  1. Netralisasi adalah perubahan bunyi fonemis sebagai akibat pengaruh darilingkungan.
  2. Zeroisasi adalah penghilangan bunyi fonemis sebagai akibat upaya penghematan atau ekonomisasi pengucapan. Te rdapat tiga jenis Zeroisasi, yaitu aferesis, apokop, dan sinkop.
  3. Monoftongisasi adalah perubahan dua bunyi vokal atau vokal rangkap (diftong) menjadi okal tunggal (monoftong).
  4. Anaptiksis adalah perubahan bunyi dengan jalan menambahkan dua vokal tertentu di antara dua konsonan untuk memperlancar ucapan. Anaptiksis ini terbagi menjadi tiga jenis yakni protesis, apentesis dan paragog.

Bunyi pengiring adalah bunyi yang ikut serta muncul ketika bunyi utama dihasilkan. Hal ini disebabkan oleh ikut sertanya alat ucap lain ketika alat ucap pembentuk bunyi utama di fungsikan.
Bunyi sertaan atau pengiring ini dapat di kelomokkan menjadi sembilan macam yakni Bunyi ajektif, bunyi klik, bunyi aspirasi, bunyi eksplosif, bunyi retrofliksi, bunyi labialisasi, bunyi palatalisasi, bunyi glotalisasi dan bunyi nasalisasi.
BAB II
ISI

1.   Deskripsi Data
Makalah ini mengambil data penelitian dari sebuah lagu anak-anak yang berjudul “Anak Baru” dan dinyanyikan oleh Gita Callista, seorang anak berusia empat tahun. Adapun data-data yang dapat diambil dari hasil penelitan yang penulis lakukan adalah mengenai lirik lagu yang dinyanyikan, transkripsi fonetis yang di ucapkan oleh Gita Callista dan transkripsi ortografisnya. Dimana data-data itu adalah sebagai berikut:
§ Lirik Lagu
Anak Baru
            Ada anak baru
Masuk ke sekolah
Pakai kacamata
Rambutnya ekor kuda
Siapa namanya?
Gita Callista
Dimana rumahnya?
Di jalan veteran
Nomor berapa?
Nomor delapan
Anak siapa?
Anak Bapak Iwan






  • Transkripsi Fonetis

No.
Kata
Transkripsi Fonetis
1
Ada
[?ada]
2
Anak
[?ana?]
3
Baru
[baru]
4
Masuk
[mashu?]
5
Ke
[kÓ™]
6
Sekolah 
[sÓ™kolah]
7
Pakai
[pake]
8
Kacamata
[kacamata]
9
Rambutnya
[rambUtña]
10
Ekor
[ekOr]
11
Kuda
[kuda]
12
Siapa
[sapa]
13
Namanya
[namaña]
14
Gita
[gita]
15
Callista
[kallista]
16
Dimana
[dimana]
17
Rumahnya
[rumahña]
18
Di jalan
[di jalan]
19
Veteran
[vertÓ™ran]
20
Nomor
[nomÓ™r]
21
Berapa
[bÓ™rapah]
22
Nomor
[nomÓ™r]
23
Delapan
[dÓ™lapan]
24
Anak
[?ana?]
25
Siapa?
[siyapa]
26
Anak
[?ana?]
27
Bapak
[bapa?]
28
Iwan
[iwan]

§  Transkripsi Ortografis

No.
Kata
Transkripsi ortografis
1
Ada
Ada
2
Anak
Anak
3
Baru
Baru
4
Masuk
Masuk
5
Ke
Ke
6
Sekolah
Sekolah
7
Pakai
Pakai
8
Kacamata
Kacamata
9
Rambutnya
Rambutnya
10
Ekor
Ekor
11
Kuda
Kuda
12
Siapa
Siapa
13
Namanya
Namanya
14
Gita
Gita
15
Callista
Callista
16
Dimana
Dimana
17
Rumahnya
Rumahnya
18
Di jalan
Di jalan
19
Veteran
Veteran
20
Nomor
Nomor
21
Berapa
Berapa
22
Nomor
Nomor
23
Delapan
Delapan
24
Anak
Anak
25
Siapa
Siapa
26
Anak
Anak
27
Bapak
Bapak
28
Iwan
Iwan

2. Analisis Data
Bunyi ujaran yang kita ucapkan dan kita dengar sebenarnya sangat banyak dan bermacam-macam. Pada umumnya kita dapat membedakan bunyi ujaran pria dan bunyi ujaran wanita, bunyi ujaran orang dewasa dengan anak-anak, bahkan kita sering dapat mengetahui siapa yang berbicara hanya dengan mendengar suaranya. Semua itu memperlihatkan bahwa bunyi ujaran yang yang diucapkan para penutur bahasa berbeda-beda.
Orang awam hanya pada umunya tidak mendengar pergeseran-pergeseran kecil dalam pengucapan bunyi ujarannya sendiri maupun bunyi ujaran orang lain. Ia dibiasakan hanya memperlihatkan perbedaan bunyi fungsional, yang dalam bahasanya penting untuk membedakan makna. Tetapi dalam penelitian ini, setelah kita melihat data-data yang ada, kita  dapat melihat bahwa dalam pengucapan lirik lagu “Anak Baru” yang dinyanyikan oleh Gita Callista terdapat beberapa perubahan bunyi, terjadinya bunyi pengiring yang dilakukannya serta faktor-faktor apa saja yang mempengaruhinya.

A.        Perubahan Bunyi
Perubahan bunyi yang dilakukan oleh Gita Callista itu terdiri dari empat jenis, yakni Monoftongisasi, Anaptaksis, Netralisasi dan Zeroisasi.

§ Monoftongisasi
Peristiwa monoftongisasi terjadi pada kata pakai pada larik ke tiga, menjadi pake oleh Gita. Dimana hal itu ditandai oleh perubahan bunyi diftong ai pada posisi akhir kata menjadi monoftong [e], sehingga kata itu berubah dari kata pakai menjadi pake.

Pakai         >          Pake
      P /#_ _ _                P/#_ _ _
a / K-K                  a / K-K           
k/ V-V                   k/ V-V
ai/_ _ _#                e/_ _ _#
       Peristiwa penunggalan vokal ini memang banyak terjadi dalam bahasa indonesia. Tidak hanya dilakukan oleh anak-anak, tetapi orang dewasa juga sering melakukan perubahan bunyi tersebut. Hal itu biasanya dilakukan, dengan tujuan untuk memudahkan pengucapan bunyi-bunyi vokal rangkap (diftong)

§ Zeroisasi
Peristiwa zeroisasi yang di ucapkan oleh Gita terjadi pada kata siapa menjadi sapa. Dimana hal itu di tandai dengan menghilangnya bunyi fonemis [ i] pada tengah kata siapa menjadi kata sapa.
Siapa         >          Sapa
      S /#_ _ _                S/#_ _ _
i / K-V                   Ó¨/K-V
      a/ V-K                   a/ V-K
p/ V-V                   p/ V-V
a/_ _ _#                 a/_ _ _#
Karena penghilangan bunyi fonemisnya berada di tengah kata, maka peristiwa zeroisasi ini temasuk ke dalam jenis zeriosisai sinkop.

§   Netralisasi
Selain itu, terjadi pula peristiwa netralisasi. Dimana hal itu di lakukannya pada beberapa kata di dalam lagu tersebut, yakni pada kata Callista di larik ke enam serta pada kata nomor di larik ke sembilan dan ke sepuluh.
      Pada kata Callista di larik ke enam, Gita merubah bunyi [c] pada kata Callista menjadi bunyi [k] sehingga kata itu dibunyikannya menjadi kallista.


Callista      >          Kallista
      C /#_ _ _               C /#_ _ _                    
a / K-K                  a / K-K                       
      l/ V-K                    l/ V-K 
l/ K-V                    l/ K-V
       i/ K-K                   i/ K-K
  s/ V-K                   s/ V-K
  t/ K-V                      t/ K-V
  a/ _ _ _ #                 a/ _ _ _ #

Tidak hanya itu, netralisasi juga terjadi pada kata nomor di larik ke sembilan dan ke sepuluh menjadi nomÓ™r. Dimana dalam kasus ini terjadi perubahan bunyi [o] menjadi bunyi [e].
Nomor       >          Nomer
      N /#_ _ _               N/#_ _ _
o / K-K                  o/ K-K
      m/ V-V                  m/ V-V           
o/ K-K                   Ó™/ K-K
r/_ _ _#                  r/_ _ _#
      Perubahan-perubahan bunyi tersebut dilakukannya sebagai akibat dari pengaruh lingkungannya yang sering melapalkan bunyi [c] menjadi [k]. Serta dilingkungan tempat tinggalnya, sering menyebut kata nomor menjadi nomÓ™r, karena di pengaruhi oleh bahasa sehari-harinya yang menggunakan bahasa sunda. Dimana kata nomor dalam bahasa indonesia hampir sama dengan kata ”nomÓ™r” dalam bahasa sunda, dan keduanya memiliki makna yang sama.

  • Anaptiksis
Perubahan bunyi anaptiksis terjadi pada kata vetÓ™ran di larik ke delapan menjadi VertÓ™ran. Selain itu, Anaptiksis juga terjadi pada kata berapa di larik ke sembilan menjadi berapah.

Dalam masalah pertama, terjadi perubahan bunyi vetÓ™ran dengan jalan menambahkan bunyi konsonan [r] pada tengah kata vetÓ™ran. Adapun perbuhan bunyi anaptiksis ini tergolong kedalam jenis anaptiksis epentesis karena proses pembubuhan bunyinya terjadi pada tengah kata.
VetÓ™ran     >          VertÓ™ran
      V /#_ _ _               V/#_ _ _
e / K-K                  e/ K-K
      t/ V-V                    r/ V-K
Ó™/ K-K                   t/ K-V 
r/ V-V                    Ó™/ K-K
a/ K-K                   r/ V-V
      n/ _ _ _ #               a/ K-K
                                n/ _ _ _ #
            Pada masalah ke dua, terjadi perubahan bunyi berapa menjadi berapah. Hal itu di karenakan, terjadinya penambahan bunyi konsonan [h] pada akhir kata bÓ™rapa. Peristiwa ini dapat di golongkan ke dalam jenis peristiwa anaptiksis paragog, karena pembubuhan bunyinya dilakukan pada akhir kata.
           
Brapa         >          Berapah
      B/#_ _ _                B/#_ _ _
Ó™/ K-K                   Ó™/ K-K
      r/ V-V                    r/ V-V 
a/ K-K                   a/ K-K
      p/ V-V                   p/ V-V
a/_ _ _#                 a/ K-K
                                    h/_ _ _#





B.             Bunyi Pengiring.
Dalam menyanyikan lirik lagu “Anak Baru”, terdengar dalam beberapa kata Gita mengucapkan bunyi utamanya diiringi oleh bunyi pengiring. Bunyi pengiring itu timbul pada saat ia membunyikan bunyi utama dalam kata masuk dan sekolah, sehingga kedua kata itu terdengar menjadi mashuk dan shekolah.
Bunyi pengiring [h] pada pelafalan kedua kata tersebut, termasuk kedalam kelompok bunyi aspirasi. Dimana bunyi itu dihasilkan sebagai akibat arus udara yang keluar lewat mulutnya terlalu keras.
            Bunyi pengiring ini terkadang terjadi secara ilmiah oleh seseorang, termasuk Gita. Sebagai akibat adanya keikutsertaan alat-alat ucap lain, ketika alat ucap pertama dibunyikan. Adapun kemungkinan lain terjadinya bunyi pengiring ini adalah Gita kesulitan membunyikan bunyi [s], sehingga ia menumpuh jalan dengan menyisipkan bunyi [h] dibelakangnya, agar bunyi [s] tersebut dapat mudah ia ucapkan. Mengingat bunyi [s] itu memang lebih sukar untuk di ucapkan disbanding dengan bunyi [m].

C. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi.         
            Sesungguhnya kesalahan pengucapan bunyi yang dilakukan oleh Gita itu dapat hilang, setelah ia menempuh beberapa tahap perkembangan bahasa, dan tahap perkembangan bahasa itu dapat berjalan seiring dengan usianya yang  bertambah..
Setiap orang memang mengalami perkembangan bahasa secara berbeda-beda, termasuk Gita. Hal itu terjadi karena dipengaruhi oleh beberapa faktor berikut:
a)      Faktor Biologi
Beberapa aspek yang penting dalam membahas faktor biologis yang menentukan perkembangan bahasa diantaranya : evolusi biologis, ikatan biologis, peranan otak, bahasa binatang dan masa kritis belajar bahasa.


1)      Evolusi Biologis
Santrock dan Yussen (1992) menegaskan bahwa anak-anak manusia dilahirkan tidak seperti burung yang datang ke dunia secara biologis sudah siap menyanyikan lagu-lagu sesuai jenisnya.
Para ahli percaya bahwa evolusi biologis membentuk manusia ke dalam makhluk linguistik. Berkenaan dengan evolusi biologis, otak, sistem syaraf dan sistem vokal berubah selama beratus-ratus ribu tahun. Diperkirakan manusia mendapat bahasa bervariasi selama beribu-ribu tahun yang lalu dari sekitar 20.000 sampai 70.000 tahun yang lalu, kemudian bahasa adalah suatu pemerolehan yang selalu baru terjadi.
2)      Ikatan Biologis
Linguist Noam Chomsky (Santrock and Yussen; 1992) percaya bahwa manusia itu terikat secara biologis untuk belajar bahasa pada suatu waktu tertentu dan dengan cara tertentu pula. Selanjutnya ditegaskan bahwa anak-anak itu dilahirkan ke dunia dilengkapi dengan alat pemerolehan bahasa (Language Acquisition Device = LAD) yaitu ikatan biologis yang memungkinkan anak mendeteksi kategori bahasa tertentu. LAD adalah suatu kemampuan gramatikal yang dibawa sejak lahir yang mendasari semua bahasa manusia.
3)      Peranan Otak Dalam Perkembangan Bahasa
Berdasarkan hasil penelitian Grazzaniaga dan Sepry (Santrock and Yussen; 1992) bahwa proses bahasa itu dikontrol oleh belahan otak bagian kiri. Berdasarkan hasil studi bahasa pada individu yang mengalami gangguan pada otaknya telah diidentifikasikan pada dua bidang belahan otak kiri yang mengalami kondisi kritis.
4)      Apakah Binatang Memiliki Bahasa
Peranan bahasa dalam evaluasi manusia telah berhasil merangsang para ahli psikologi memikirkan tentang kemungkinan binatang memiliki bahasa. Pada kenyataan tidaklah diragukan bahwa beberapa spesies binatang mempunyai sistem komunikasi yang menakjubkan dan sederhana. Komunikasinya adalah adaftif dalam memberikan tanda bahaya, makanan dan kebutuhan seksual

5)      Periode Krisis Belajar Bahasa
Berdasarkan pengalaman Henry Kissinger bahwa masa yang sangat peka untuk belajar dan mengembangkan fonologi dan dialek adalah pada sebelum usia 12 tahun.
Berdasarkan hasil temuan-temuan bahwa bahasa harus digerakkan melalui belajar dan waktu yang efektif untuk pengembangan bahasa adalah pada usia dini

b) Faktor Sosiokultural dan Lingkungan
Peranan biologis dalam perkembangan bahasa memang sangat kuat, tetapi aspek yang sangat penting dalam pengembangan bahasa manusia pengaruh dari lingkungan. Karena dari lingkungan itu seseorang dapat mengembangkan tentang kemampuan bahasanya. Tetapi perkembangan bahasanya itu pun disesuaikan dengan bahasa yang digunakan dalam lingkungannya.

BAB III
KESIMPULAN

Dalam lagu yang berjudul “Anak Baru” dan dinyanyikan oleh anak berusia empat tahun yaitu Gita Callista, terjadi empat macam perubahan bunyi yakni Monoftongisasi, Zeroisasi, Netralisasi dan Anaptiksis. Namun perubahan-perubahannya bunyi yang ia lakukan masih tergolong dalam lingkup perubahan fonetis, karena perubahan yang ia lakukan tidak sampai membedakan makna atau mengubah identitas fonem. Maka bunyi-bunyi tersebut masih merupakan alofon atau varian bunyi dari fonem yang sama.
Selain itu, bunyi pengiring yang terdengar dalam lagu, semata-mata hanyalah  cara yang ia tempuh agar mempermudah ia dalam mengucapkan bunyi [s].
Jadi, kesalahan pengucapan bunyi yang dilakukan oleh Gita masih dalam batas kewajaran, mengingat usianya yang baru empat tahun. Dimana pada usia tersebut kemampuan sistem tuturnya masih belum sempurna serta pengetahuan bahasanya masih dipengaruhi oleh lingkungan yang berada di sekitarnya.



INILAH CARA ORANG KREATIF BEKERJA



Kreativitas adalah suatu proses yang menghasilkan sesuatu yang baru, dalam bentuk suatu gagasan atau suatu objek dalam suatu bentuk atau susunan yang baru
(Hurlock dalam Basuki, 2010)
Kreativitas merupakan salah satu nilai yang sangat penting diperlukan oleh setiap individu pada masa kini khususnya apabila ia ingin terjun ke dunia wirausaha. Dimana dalam dunia tersebut sering sekali ditemukan berbagai tantangan serta persaingan pasar yang ketat sehingga menuntut seseorang yang terjun kedalamnya memiliki kreativitas yang tinggi agar ia mampu memenangkan persaingan tersebut. Memang pada kenyataannya adanya tantangan serta persaingan pasar  yang ketat bukanlah hal yang baru ditemukan dalam dunia wirausaha, tantangan serta persaingan pasar ini telah ditemukan sejak dahulu. Siapa saja wirausahawan yang dapat memenangkan persaingan ini, maka ia dapat digolongkan kedalam seorang wirausahawan yang sukses. Adapun kemenangan tersebut dapat dilih dari permintaan pasar yang tinggi terhadap produk usaha yang dihasilkannya
Tentunya apabila seseorang ingin memenangkan ketatanya persaingan pasar yang ada ia harus mampu menciptakan suatu produk yang berbeda dan unik serta memiliki kualitas tinggi dibandingkan dengan produk-produk yang berada di pasaran. Dengan menciptakan suatu produk yang berbeda dengan kualitas yang tinggi, maka produk tersebut dapat menarik perhatian pasar yang kemudian akan lebih memilih produk yang berbeda tersebut dibandingkan dengan produk-produk lain yang beredar. Untuk menghasilkan sebuah produk yang berbeda, maka seorang wirausahawan tentunya harus memiliki kreativitas yang tinggi untuk memenangkan hati para konsumen. Namun sayangnya jarang sekali seorang wirausahawan yang mengetahui dan membentuk dirinya menjadi seorang yang kreatif padahal kesuksesan dan kreativitas merupakan dua hal yang saling berkaitan dan saling menunjang satu sama lain.
Terdapat berbagai macam pengertian kreativitas yang dikemukakan oleh para ahli, hal tersebut diakibatkan oleh perbedaan sudut pandang yang digunakan. Pengertian kreativitas diartikan kedalam empat jenis dimensi yakni dimensi Person, Proses, Press dan Product. Ditinjau dari dimensi Person, seseorang yang kreatif adalah seorang yang dapat berpikir secara sintesis artinya dapat melihat hubungan-hubungan di mana orang lain tidak mampu melihatnya yang mempunyai kemampuan untuk menganalisis ide-idenya sendiri serta mengevaluasi nilai ataupun kualitas karya pribadinya, mampu menterjemahkan teori dan hal-hal yang abstrak ke dalam ide-ide praktis, sehingga individu mampu meyakinkan orang lain mengenai ide-ide yang akan dikerjakannya (Sternberg dalam Afifa, 2007). Adapun apabila ditinjau dari segi Proses, Kreativitas adalah suatu proses yang menghasilkan sesuatu yang baru, apakah suatu gagasan atau suatu objek dalam suatu bentuk atau susunan yang baru (Hurlock dalam Basuki, 2010). Sedangkan ditnjau dari segi Press, kreativitas adalah sebuah inisiatif yang salah satunya terwujud dari dorongannya untuk merubah cara berfikir yang biasa (Simpson dalam S. C. U. Munandar 1999). Yang terakhir apabila ditinjau dari dimensi product, kreatifitas adalah kemampuan untuk menghasilkan/menciptakan sesuatu yang baru (Baron dalam Reni Akbar-Hawadi dkk, 2001).
Berdasarkan beberapa pengertian diatas dapat kita simpulkan bahwa kreativitas merupakan kemampuan seseorang untuk menciptakan sesuatu yang baru yang belum pernah ada sebelumnya, akan tetapi produk yang diciptakan itu tidak hanya sebatas sesuatu yang baru tetapi produk tersebut juga harus bisa bermanfaat baik bagi orang yang menciptakannya maupun bagi orang lain. Setiap orang diduania ini memiliki kemampuan untuk berfikir kreatif meskipun memang kadar kreativitas seseorang itu berbeda-beda, tergantung bagaimana seseorang mempola dan mengasah pikirannya. Seseorang yang kreatif biasanya memiliki karakteristik yang khas yang dapat mengantarkannya menuju kesuksesan. Adapun karakteristik tersebut diantaranya memiliki motivasi yang tinggi untuk membuat sesuatu yang baru, selalu ingin tahu dan berani mencoba sesuatu yang baru, berfiiran positif, optimis, fleksibel, tertarik pada masalah yang ada disekitarnya, melihat masalah sebagai sebuah peluang, tidak takut untuk berimajinasi, memiliki daya inisiatif yang tinggi, menyukai tantangan, memperhitungkan segala kemungkinan, berani mengambil resiko,dan pantang menyerah.

Berdasarkan karakteristik di atas kita dapat melihat bagaimana orang kreatif bekarja, ia selalu dapat melihat peluang-peluang yang ada dan berani untuk membuat sesuatu yang baru. Seseungguhnya karakteristik seperti itulah yang dibutuhkan oleh seorang wirausahawan agar dapat menempuh kesuksesan. Karekter seperti ini pulalah yang dapat kita lihat pada pengusaha muda yang dapat digolongkan sebagai pengusaha sukses Indonesia yakni Hendy Setiono. Mungkin banyak yang belum pernah mendengar nama Hendy Setiono, tapi pasti banyak yang sudah mendengar bahkan mungkin banyak yang sudah merasakan Kebab Turki Baba Raffi. Hendy Setiono merupakan pengusaha sukses yang masih berumur 25 tahun, akan tetapi ia sudah memiliki 325 gerai yang tersebar di 50 kota dari Aceh sampai Ambon.
Ide awal membuka usaha Kebab didapat ketika Hendy mengunjungi ayahnya di Qatar, kemudian ia langsung tertarik dengan roti kebab yang rasanya enak. Setelah kembali ke Indonesia tahun 2003, Hendy melihat adanya peluang untuk membuka usaha Kebab yang pada saat itu produk tersebut belum terdapat di pasaran. Ia pun mulai merintis usahanya tersebut dengan modal 4 juta rupiah dari pinjaman teman dekat dan kerabatnya. Hendy mulai berjualan di halaman kampus ITS (Institut Teknologi Sepuluh Nopember) Fakultas Teknik Informatika tempatnya kuliah. Untuk menggeluti usahanya Hendy pun memilih untuk meninggalkan bangku kuliahnya meski banyak ditentang oleh kedua orang tuanya.
Jatuh bangun dalam membangun usaha tersebut terus dia geluti dan dalam setahun berikutnya tahun 2004, kebab turki ditawarkan dalam bentuk waralaba, dan dalam waktu empat tahun, 100 gerai Kebab Turki Babarafi sudah tersebar di 16 kota di Indonesia. Bentuk usaha pun berubah menjadi PT Baba Rafi Indonesia. Pada 2008 jumlah gerai telah bertambah menjadi 325 di 50 kota. Total jumlah karyawan Baba Rafi ada 700 orang. Omzetnya melambung menjadi Rp 4 miliar per bulan.
Tak hanya dalam negeri, ayah tiga orang anak ini juga merambah Negara tetangga. Di bawah bendera PT Baba Rafi SDN Bhd., Kebab Turki Babarafi membuka bisnis di Johor Bahru dengan 25 gerai dan juga akan menjajal bisnis serupa di Vietnam, Thailand, Burma, dan Singapura.
Hendy juga menggelar jurus diversifikasi produk. Pada tahun 2007 dia mengakuisisi produsen roti cane, Roti Maryam Aba Abi. Kini jumlah gerai roti ini sudah mencapai 40 gerai. Dia juga telah bermitra dengan Bob Sadino berbisnis pengelolaan daging.
Sukses yang dia raih mendapatkan apresiasi dari berbagai pihak terbukti banyak penghargaan-penghargaan yang dia raih. Di bulan Desember 2010 ini, Hendy Setiono (PT. Baba Rafi Indonesia) kembali dianugerahi penghargaan Asia Pacific Entrepreneurship Award (APEA) 2010 untuk kategori Outstanding Entrepreneurship Awards 2010. Sebelumnya pada tahun 2009 Hendy Setiono (PT. Baba Rafi Indonesia) juga mendapatkan penghargaan yang sama dalam kategori The Best In Marketing Indonesia Franchisor of The Year 2009 dan Top Franchise ASEAN 2009.
Berdasarkan pengalaman Sang Juragan Kebab tersebut kita dapat belajar bagaimana ia melihat peluang yang ada kemudian ia berani menghasilkan sesuatu yang baru, ia pun optimis dengan usaha Kebabnya itu sehingga setelah memperhitungkan resiko yang bsa didapat ia pun berani mengambil resiko untuk meninggalkan bangku kuliahnya, Selain itu kita juga dapat belajar bagaimana ia pantang menyerah dalam menghadapi masalah yang dihadapinya. Walaupun pasang surut penghasilan yang didapatkannya tapi ia tetap menggeluti usahanya tersebut.
Terdapat banyak sekali manfaat yang akan kita dapatkan apabila kita membentuk diri kita menjadi seorang yang kreatif, bukan hanya kesuksesan seperti yang telah didapatkan oleh Hendy Setiono tetapi juga terdapat beberapa manfaat lain yang bisa didapat apabila kita membentuk diri kita menjadi seorang yang kreatif. Pertama, kita dapat memiliki banyak ide untuk menyelesaikan berbaga macam masalah yang terdapat dlam hidup in. Kedua, Dengan Kreativitas, kita dapat menghasilkan sebuah produk yang unggul dan berbeda sehingga kita dapat menarik perhatian pasar. Ketiga, Kita dapat memasarkan produk dengan berbaga macam ide yang kreatif sehingga pasar dapat tertarik dengan produk yang kita pasarkan. Keempat, dengan ide kreatif kita dapat menghasilkan berbagai terobosan produk baru sehingga masyarakat tidak pernah merasa jenuh dengan produk yang kita pasarkan.

Seperti yang telah dikemukakan di awal setiap orang memiliki kemampuan untuk berfikir kreatif hanya saja tidak semua orang tahu dan mau membentuk dirinya sebagai orang yang kreatif. Untuk itu bagi seseorang yang ingin merubah pola pikirnya menjadi orang yang lebih kreatif berikut ini akan dipaparkan beberapa solusi yang dapat digunakan untuk membentuk seseorang agar ia dapat menjadi seorang pengusaha yang kreatif.
1.      Sugesti diri bahwa anda adalah orang yang kreatif
2.      Bentuk pola hidup kreatif
3.      Observasi keadaan dan masalah sekitar
4.      Lihat peluang yang dapat kita masuki
5.      Tentukan masalah yang ingin dipecahkan
6.      Tentukan tujuan
7.      Kemukakan ide-ide baru
8.      Tulis semua ide dengan cepat dan memungkinkan.
9.      Kelompokkan dan pilih ide yang terbaik
10.  Perhitungkan resiko yang mungkin didapat
11.  Berani mencoba mengaplikasikan ide tersebut
12.  Pantang menyerah
13.  Apabila ditemukan kesalahan atau kekurangan, perbaiki dan sempurnakanlah.
Percayalah bahwa semua orang memiliki kemampuan untuk berfkir kreatif sehingga bentuk dan asahlah pikiran kita untuk menjadi manusia yang kreatif yang dapat membawa kita menuju kesuksesan.

Saturday, 7 May 2011

contoh drama sederhana SD: menjenguk teman yang sakit


MENJENGUK TEMAN YANG SAKIT
Tokoh:
·         Ibu Guru
·         Ketua Kelas
·         Deni, Ade, Ani, Riska
·         Ayah Mira
·         Ibu Mira
·         Mira
Setting             : Ruang Kelas, di dalamnya terdapat tiga buah meja dan enam buah kursi untuk murid berjejer  sebaris.
Semua tokoh yang berperan sebagai siswa telah duduk rapih di mejanya masing-masing saat  Ibu guru dating.
(ibu guru dating dari pintu, menyimpan buku yang dibawa ke atas meja, kemudian berdiri di depan paramurid)
Ibu Guru         : Selamat pagi anak-anak
Semua Murid  : Selamat pagi Bu (mengucapkan secara serempak)
Ibu Guru         : Senang sekali ya, hari ini kita dapat bertemu kembali di kelas untuk melaksanakan pembelajaran. Akan tetapi sebelum kita melanjutkan pembelajaran, ibu ingin tahu, apakah ada teman kalian yang tidak hadir hari ini?
(ketua kelas mengacungkan tangannya)
Ketua Kelas    : Mira tidak hadir bu.
Ibu Guru         : Ada yang tau kenapa Mira tidak hadir?
Ani                  : Ibunya bilang kalau Mira sedang sakit Bu
Ibu Guru         : Memangnya sakit apa, Ni?
Ani                  : saya kurang tahu bu
Ibu Guru         : Yasudah kalau begitu, bagaimana kalau nanti sepulang sekolah kita menjenguk Mira ke rumahnya? Ada yang mau ikut?
Semua Murid  : Mau Bu!! (mengucapkan secara serempak)
Narrator          : akhirnya sepulang sekolah Ibu Guru, Ketua Kelas, Deni, Ade, Ani dan Riska pergi ke rumah Mira.
Setting             : Sebuah ruangan yang didalamnya terdapat delapan buah kursi serta dua buah meja. Meja pertama digunakan sebagai pelengkap kedelapan buah kursi dan di tempatkan ditengah-tengah kedelapan kursi tersebut sedang satu meja yang lain ditempatkan terpisah berfungsi sebagai tempat tidur. Ayah dan Ibu Mira sedang asik mengobrol ketika ibu guru dan para murid dating. Sedangkan mira sedang berbaring di atas meja yang telah disediakan saat ibu guru dan para murid datang.
Ibu Guru dan Semua Murid    : Assalamualaikum
(Ibu dan Ayah Mira Kaget. Mereka saling berpandangan kemudian Ibu Mira menghampiri ibu guru)
Ibu Mira                      : Walaikum salam, Eh  Ibu Guru, silahkan masuk Bu
Ibu Guru                     : terimakasih Bu, ayo masuk anak-anak
Ayah Mira                   : Eh ibu Guru, silahkan duduk Bu.
 (Semua orang saling bersalaman sebelum akhirnya mereka semua duduk)
Ibu Guru                     : Begini bu, maksud kedatangan kami adalah untuk menjenguk Mira. Saya dengar ia  sedang sakit.
Ibu Mira                      : wah terimakasih banyak bu atas perhatiannya, sebentar ya bu saya panggilkan Mira. Mira kesini sayang
(Mira datang dengan lemas kemudian duduk disebelah ibunya)
Ibu Mira                      : Mira sudah dua hari ini terkena flu Bu. Sepulang sekolah pada hari senin kemarin, Mira main hujan-hujanan dengan teman-temannya. Setelah itu badannya demam dan bersin-bersin.
Ayah Mira                   : kami pun langsung membawanya ke dokter bu. Memang anak ini sedikit bandel sudah diberitahu jangan hujan-hujanan tapi tetap saja main.
Ibu Guru         `           : Sabar ya pak, saya yakin Mira pasti sudah kapok dan tidak akan mengulanginya lagi, benar kan Mira?
Mira                             : Benar Bu, saya sudah kapok tidak akan main hujan-hujanan lagi.
Ibu Guru                     : Bagus, Nah, anak-anak kalian belajar kan dari sakitnya Mira hari ini, kalian tidak boleh main hujan-hujanan ya kalau tidak mau sakit seperti Mira!
Semua Murid              : Baik Bu (menjawab secara serentak)





HAK DAN KEWAJIBAN PESERTA DISKUSI


Menyimak dan Menanggapi Informasi dalam Diskusi
Pada saat mengikuti sebuah kegiatan diskusi, kita dapat memperoleh informasi dari berbagai sumber diantaranya moderator, narasumber, gagasan peserta lain, para pakar dan lainlain. Akan tetapi pada saat kegiatan diskusi berlangsung kadang terdapat peserta diskusi yang tidak memahami dan kewajibannya sebagai peserta diskusi, sehingga hal itu mengakibatkan dikusi yang sedang dilaksanakan menjadi terhambat. Oleh sebab itu, sebelum kita mengikuti sebuah acara diskusi hendaknya kita mengetahui terlebih dahulu hak dan kewajiban kita sebagai peserta diskusi.
a.       Kewajiban peserta diskusi
Berikut ini adalah kewajiban yang harus dilakukan apabila kita mengikuti sebuah diskusi.
·         Menjaga ketertiban
·         Mengikuti peraturan yang telah ditetapkan panitia
·         Aktif mengikuti diskusi
·         Menghargai perbedaan pendapat
·         Tidak memaksakan pendapat
b.      Hak peserta diskusi
Adapun yang menjadi hak seorang peserta diskusi adalah sebagai berikut.
·         Mengajukan pertanyaan
·         Mengajukan usul
·         Mengajukan sanggahan
·         Mendapatkan informasi dari dilaksanakannya dikusi tersebut
Selain memperhatikan hak dan kewajiban kita sebagai peserta diskusi, kita juga harus memperhatikan langkah-langkah yang dapat kita lakukan untuk mengungkapkan pendapat di dalam diskusi.
1.      Menangkap inti informasi yang disampaikan narasumber
2.      Mengidentifikasi ides umber informasi yang akan ditanggapi
3.      Menentukan jenis tanggapan yang akan digunakan untuk merespons sumber informasi baik itu dapat berjenis kritik, saran maupun pertanyaan
4.      Sebelum mengajukan tanggapan hendaknya meminta izin kepada moderator dengan mengacungkan tangan terlebih dahulu
5.      Apabila telah diizinkan, sebutkanlah identitas diri terlebih dahulu
6.      Sampaikanlah tanggapan tersebut dengan menggunakan kalimat yang efektif, logis dan sitematis
7.      Pada saat menanggapi, kita harus tetap bersikap objektif, rasional dan tidak emosional
8.      Menyampaikan gagasan dengan memperhatikan ketepatan intonasi, lafal, vocal, dan mimic yang sesuai dengan tanggapan yang akan disampaikan
9.      Menghargai pendapat orang lain