This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Search This Blog

Showing posts with label teori belajar bahasa. Show all posts
Showing posts with label teori belajar bahasa. Show all posts

Thursday, 7 April 2011

Metode Belajar bahasa Indonesia


1.      Metode Tatabahasa/Terjemahan
1.      Penghafalan kaidah dan fakta tata bahasa
2.      Penekanan pada membaca, mengarang, terjemahan (Berbicara dan menyimak diabaikan)
3.      Seleksi kosa kata berdasarkan teks bacaan yang dipakai
4.      Unit yang mendasar adalah kalimat, tatabahasa diajarkan secra deduktif
5.      Bahasa daerah digunakan sebagai pengantar terjemahan, keterangan, perbandingan, dan penghafalan kaidah bahasa.
2.      Metode membaca
1.      Pemberian kosakata dan istilah yang dianggap sukar (dengan definsi dan contoh ke dalam kalimat)
2.      Penyajian bacaan di kelas (dibaca diam 10-15 menit atau untuk mempercepat diberikan sehari sebelumnya)
3.      Diskusi isi bacaan dapat melalui tanya jawab
4.      Tatabahasa dibicarakan singkat, jika dipandang perlu pembicaraan kosa kata yang relevan
5.      Pemberian tugas seperti mengarang Irelevan dengan isi bacaan) atau membuat denah, skema, diagram, ikhtisar, rangkuman, dsb.
3.      Metode Audiolingual
1.      Penyajian dialog/teks pendek yang dibacakan guru berulang-ulang,
2.      Siswa menyimak tanpa melihat teks yang diucapkan.
3.      Peniruan dan pelafalan teks itu setiap kalimat secara serentak dan siswa melafalkannya.
4.      Siswa menyimak tanpa melihat teks yang diucapkan.
5.      Penyajian kalimat dilatihkan dengan pengulangan.
6.      Dramatisasi dialog atau teks yang dilatihkan kemudian siswa memperagakan di depan kelas.
7.      Pembentukan kalimat lain yang sesuai dengan yang dilatihkan.
4.      Metode Reseptif dan Produktif
Metode Reseptif dalam membaca dan menyimak:
1.      Mengarah ke proses penerimaan isi bacaan yang tersurat, tersirat, atau tersorot
2.      Cocok diterapkan pada siswa yang telah banyak menguasai kosakata, frase, dan kalimat
3.      Sangat dipentingkan bagaimana isi bacaan dapat diserap dengan bagus.
4.      Pembaca dilarang bersuara, berkomat-kamit, dan bergerak-gerak
5.      Membutuhkan konsentrasi tinggi dalam menerima makna bacaan dan ujaran
Metode Produktif diarahkan pada berbicara dan menulis.
Siswa harus banyak berbicara atau menuangkan gagasannya.
5.      Metode Langsung (Alamiah/Lisan)
1.      Pembelajaran dimulai dengan dialog atau humor yang pendek dalam bahasa Indonesia dengan gaya bahasa santai dan nonformal.
2.      Materi mulai-mula disajikan secara lisan dengan gerakan atau isyarat tertentu, dramatisasi, dan gambar-gambar.
3.      Tanya jawab berdasarkan bahasa yang dipelajari dengan memberikan contoh yang merangsang siswa.
4.      Tata bahasa diajarkan secara induktif.
5.      Kata-kata digunakan dalam percakapan-percakapan.
6.      Siswa yang sudah maju diberi bacaan sastra untuk pemahaman dan kenikmatan, tetapi bahasa dalam bacaan tidak dianalisis secara struktural/sistematis.
7.      Budaya yang relevan diajarkan secara induktif.

6.      Metode Komunikatif
Desain yang bermuatan komunikatif harus mencakup semua keterampilan berbahasa. Setiap tujuan diorganisasikan ke dalam pembelajaran. Setiap pembelajaran dispesifikkan ke dalam tujuan kongkret yang merupakan produk akhir. Sebuah produk (mis. surat, laporan, peta) dimaksudkan sebagai sebuah informasi yang dapat dipahami, ditulis, diutarakan, atau disajikan ke dalam nonlinguistik.
Sebagai contoh, pembelajaran yang bertujuan menyampaikan pesan kepada orang lain. Tujuan itu dipecah menjadi a) memahami pesan, b) mengajukan pertanyaan untuk menghilangkan keraguan, c) mengajukan pertanyaan untuk memperoleh labih banyak informasi, d) membuat catatan, e) menyusun catatan secara logis, dan f) menyampaikan pesan secara lisan. Dengan begitu, pada materi bahasan penyampaian pesan saja, aktivitas komunikasi dapat terbangun secara menarik, mendalam, dan membuat siswa lebih intensif. yang sesuai dengan tujuan pembelajaran.

7.      Metode Integratif
Integratif berarti menyatukan beberapa aspek ke dalam satu proses. Integratif terbagi menjadi interbidang studi dan antarbidang studi. Interbidang studi artinya beberapa aspek dalam satu bidang studi. Misalnya menyimak diintegrasikan dengan berbicara dan menulis. Menulis diintegrasikan dengan berbicara dan membaca. Materi kebahasaan diintegrasikan dengan keterampilan bahasa. Sedangkan antarbidang studi artinya merupakan pengintegrasian bahan dari beberapa bidang studi, misalnya antara bahasa Indonesia dengan Matematika atau bidang studi lainnya.
Dalam pembelajaran bahasa Indonesia, intergratif interbidang studi lebih banyak digunakan. saat pembelajaran kalimat, guru tidak secara langsung menyodorkan kepada siswa tetapi diawali dengan membaca atau kegiatan lainnya. Perpindahannya diatur secara tipis. Bahkan, guru yang pandai mengitegrasikan penyampaian materi dapat menyebabkan siswa tidak merasakan perpindahan materi.
Integratif sangat diharapkan oleh Kurikulum Bahasa Indonesia. Pengintegrasiaannya diaplikasikan sesuai dengan kompetensi dasar yang perlu dimiliki siswa. Materi tidak dipisah-pisahkan. Materi ajar justru merupakan kesatuan yang perlu dikemas secara menarik.
8.      Metode Tematik
Dalam metode tematik semua komponen materi pembelajaran dintegrasikan ke dalam tema yang sama dalam satu unit pertemuan. Yang perlu dipahami adalah bahwa tema bukanlah tujuan tetapi alat yang digunakan untuk pencapaian tujuan pembelajaran. Tema tersebut harus diolah dan disajikan secara kontekstuaal, kontemporer, konkret, dan konseptual.
Peran guru amat menentukan dalam mendesain kesuksesan pembelajaran bahasa Indonesia di SMP. Oleh karena itu, guru Bahasa Indonesia diharapkan:
1.      guru perlu menekankan bahwa bahasa merupakan sarana berpikir. Keterampilan berbahasa siswa menjadi tolak ukur kemampuan berpikir mereka.
2.      kreativitas siswa perlu diperhatikan oleh guru terutama dalam kreativitas berbahasa sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia.
3.      Pembelajaran Bahasa Indonesia harus menyenangkan siswa. Oleh karena itu, minat, keingintahuan, dan gairah siswa perlu mendapatkan perhatian.
4.      Ada banyak metode dalam teknik yang cocok yang dapat digunakan. Guru jangan sampai monoton, klise, jenuh, dan kehabisan teknik pembelajaran.
9.      Metode Kuantum
Quantum Learing (QL) yang bertumpu pada metode dari Freire dan Lozanov ini mengutamakan percepatan belajar dengan cara partisipatori peserta didik dala melihat potensi diri dalam kondisi penguasaan diri. Gaya belajar dengan mengacu pada otak kanan dan otak kiri menjadi ciri khas QL. Menurut QL, proses belajar adalah fenomena yang kompleks. Segala sesuatunya dapat berarti (kata, pikiran, tindakan, dan asosiasi) dan sampai sejauhmana guru mengubah lingkungan, presentasi, dan rancangan pengajaran, maka sejauh itulah proses belajar berlangsung. Hubungan dinamis dalam lingkungan kelas merupakan landasan dan kerangka untuk belajar. Dengan begitu, pembelajar dapat mememori, membaca, menulis, dan membuat peta pikiran dengan cepat.
10.  Metode Konstruktivistik
Asumsi sentral metode konstruktivistik adalah bahwa belajar itu menemukan. Meskipun guru menyampaikan sesuatu kepada siswa, mereka melakukan proses mental atau kerja otak atas informasi itu agar masuk kedalam pemahaman mereka. Konstruktivistik dimulai dari masalah yang sering muncul dari sendiri dan selanjutnya membantu siswa menyelesaikan dan menemukan langkah-langkah pemecahan masalah tersebut.
Metode konstruktivistik didasarkan pada teori belajar kognitif yang menekankan pada pembelajaran kooperatif, pembelajaran generatif, strategi bertanya, inkuiri, atau menemukan dan keterampilan metakognitif lainnya.
11.  Metode Partisipatori
Metode pembelajaran partisipatori lebih menekankan keterlibatan siswa secara penuh. Siswa dianggap sebagai penentu keberhasilan belajar. Siswa didudukkan sebagai subjek belajar. Dengan berpatisipasi aktif, siswa dapat menukan hasil belajar. Guru hanya bersifat sebagai pemandu atau fasilitator.
Asumsi metode ini adalah:
1.      Setiap siswa adalah unik dengan kelebihan dan kelemahan masing-masing. Penyeragaman dan penyamarataan akan membunuh keunikan tersebut. keunikan harus diberi tempat agar berkembang.
2.      Anak bukan miniatur orang dewasa. Jalan pikir anak tidak sama dengan jalan pikir orang dewasa. Orang dewasa harus dapat menyelami cara merasa dan cara berpikir anak-anak.
3.      Dunia anak adalah dunia bermain.
4.      Usia anak adalah usia yang paling kreatif dalam hidup manusia.
Dalam metode ini siswa aktif, dinamis, dan berlaku sebagai subjek. Namun, bukan berarti guru harus pasif, tetapi guru juga aktif dalam memfasilitasi belajar siswa dengan suara, gambar, tulisan dinding, dan sebagainya. Guru berperan sebagai pemandu yang penuh dengan motivasi, pandai berperan sebagai mediator, dan kreatif. Konteks siswa menjadi tumpuan utama.
Metode ini memiliki tiga ciri pokok, yaitu:
1.      belajar dari realitas atau pengalaman;
2.      tidak menggurui, dan
3.      dialogis.



12.  Metode Konstetkstual
Pembelajaran kontekstual adalah konsepsi pembelajaran yang membantu guru menghubungkan mata pelajaran dengan situasi dunia nyata dan pembelajaran yang memotivasi siswa agar menghubungkan pengetahuan dan terapannya dengan kehidupan sehari-hari sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Metode ini muncul sebagai reaksi terhadap teori behavioristik yang telah mendominasi pendidikan selama puluhan tahun.
Metode ini mengakui bahwa pembelajaran merupakan proses kompleks dan banyak fase yang berlangsung jauh melampaui drill oriented dan metode Stimulus-Response.
Dalam strategi ini ada tujuh elemen penting, yaitu:
1.      Inkuiri
2.      Pertanyaan
3.      Konstruktivistik
4.      Pemodelan
5.      Masyarakat belajar,
6.      Penilaiaan autentik, dan
7.      Refleksi.
6.      Proses dan Hasil Belajar
Proses dan Hasil Belajar Bahasa Indonesia mencerminkan 3 ranah, yaitu:
1.      Ranah Kognitif
2.      Ranah Afektif
3.      Ranah Psikomotor
7.      Beberapa Isi penting dalam Pembelajaran Bahasa
1.      Kompetensi dan Performansi
2.      Komprehensi dan Produksi
3.      Dasar versus Ajar (Nature versus Nurture)
4.      Kesemestaan
5.      Sistemasitas dan Variabilitas
6.      Bahasa dan Pikiran
7.      Imitasi (Peniruan)
8.      Wacana
8.      Pembelajaran Bahasa Indonesia menurut KBK/KTSP
1.      Siswa lebih banyak berlatih berbahasa nyata (meaning focus)
2.      Tata bahasa hanya untuk membetulkan kesalahan ujaran siswa
3.      Keterampilan berbahasa nyata menjadi tujuan utama
4.      Membaca sebagai alat untuk belajar (Reading for Learning), bukan sekedar Learning to Read
5.      Menulis sebagai alat berekspresi dan menyampaikan gagasan
6.      Kelas menjadi tempat berlatih menulis, membaca, dan berbicara dalam bahasa Indonesia.
7.      Penekanan pembelajaran sastra pada membaca karya sastra sebanyak-banyaknya (puisi/cerpen yang bisa diperoleh siswa dengan mudah: di majalah, karangan siswa sendiri, dsb).
8.      Pembelajaran kosa kata untuk menambah kosa kata anak.

Strategi Belajar Bahasa Indonesia


Jika kita merasa pusing saat mempelajari sesuatu tetapi tidak dapat menangkap maknanya, berarti kita belum menemukan strategi yang cocok untuk mempelajari hal itu. Betapa riangnya, seorang anak ketika berusaha menemukan sesuatu dalam suatu konsep yang dia pelajari, ternyata didapatkannya dengan cepat dan tepat. Ketepatan dan ketidaktepatan dalam belajar ditentukan oleh strategi belajar yang diterapkan.
Strategi belajar mengacu pada prilaku dan proses berpikir siswa yang mempengaruhi apa yang dipelajari, termasuk proses mememori dan metakognitif. Strategi adalah operator-operator koginitif yang langsung terlibat dalam menyelesaikan tugas belajar. Dalam penyelesaian belajar itu terdapat karakteristik belajar masing-masing individu. Dari karakteristik itu dapat digambarkan jenis utama strategi belajar.
Jenis utama strategi belajar terdiri dari:
1.      Strategi Mengulang
1.      Mengulang sederhana
Strategi mengulang sederhana digunakan untuk sekedar membaca ulang materi tertentu hanya untuk menghafal saja(contoh menghafal nomor telepon, arah tempat, waktu tertentu, daftar belanjaan). Memori yang sudah ada di pikiran dimunculkan kembali untuk kepentingan jangka pendek, seketika, dan sederhana.
2.      Mengulang kompleks
Penyerapan bahan yang lebih kompleks memerlukan strategi mengulang yang kompleks. Menggarisbawahi ide-ide kunci, membuat catatan pinggir, dan menuliskan kembali inti informasi yang telah diterima merupakan bagian dari mengulang kompleks.
2.      Strategi Elaborasi(PQ4R)
Elaborasi adalah proses penambahan rincian sehingga menjadi informasi baru akan menjadi lebih bermakna. Dengan strategi elaborasi, pengkodeaan lebih mudah dilakukan dan lebih memberikan kepastian. Strategi ini membantu pemindahan informasi baru dari meori di otak yang bersifat jangka pendek ke jangka panjang dengan menciptakan hubungan dan gabungan antara informasi baru dengan yang pernah ada.
Beberapa bentuk strategi Elaborasi adalah pembuatan catatan, analogi, dan PQ4R. Pembuatan Catatan adalah strategi yang menggabungkan informasi yang dipunyai sebelumnya dengan informasi baru yang di dapat memlalui poroses mencatat. Dengan mencatat siswa dapat menuangkan ide baru dari pencampuran dua informasi itu. Kemudian, Analogi merupakan cara belajar dengan perbandingan yang dibuat untuk menunjukkan persamaan antara ciri pokok benda atau ide, misalnya otak kita mirip dingan komputer yang menerima dan menyimpan informasi. PQ4R (Preview = membaca selintas dengan cepat, Question=bertanya, Read = membaca, Reflect = merefleksi, dan review = mengulang secara menyeluruh) merupakan strategi yang digunakan untuk membantu siswa mengingat apa yang mereka baca. PQ4R merupakan strategi yang terbukti efektif dalam membantu siswa menghafal isi bacaan.
3.      Strategi Organisasi
Strategi organisasi membantu pelaku belajar meningkatkan kebermaknaan bahan-bahan baru dengan struktur peongorganisasian baru. Strategi organisasi terdiri atas pengelompokan ulang ide-ide atau istilah menjadi subset yang lebih kecil. Strategi ini berperan sebagai pengidentifikasian ide-ide atau fakta kunci dari sekumpulan informasi yang lebih besar.
Bentuk strategi organisasi:
1.      Outlining(membuat garis besar), Siswa menghubungkan berbagai macam topik atau ide dengan beberapa ide utama.
2.      Mapping (Pemetaan Konsep), Dalam beberapa hal lebih efektif daripada outlining.
3.      Mnemonic (membentuk kategori khusus), Secara teknik dapat diklasifikasikan sebagai strategi elaborasi dan organisasi. Menemonic membantu mengorganisasikan informasi menjadi memori kerja dengan membentuk asosiasi yang secara alamiah tidak bisa terjadi. Strategi Mnemonic terdiri atas pemotongan, akronim, dan kata berkait.
4.      Strategi Metakognitif (“Learning How To Learn”)
Metakognitif berhubungan dengan dengan berpikir siswa tentang berpikir mereka dan kemampuan menggunakan strategi belajar dengan tepat. Metakognitif mempunyai dua komponen, yaitu pengetahuan tentang kognisi dan mekanisme pengendalian atau monitoring kognisi. Metakognitif mementingkan ”belajar bagaimana belajar”( Learning how to learn).

Pendekatan Belajar Bahasa Indonesia


1.      Pembelajaran Bahasa Masyarakat (Community Language Learning)
Pendekatan ini berakar pada psikoterapi, yang memposisikan guru sebagai konselor dan siswa sebagai klien. Konselor bertugas menghilangkan perasaan negatif. Ia bersifat fasilitatif, ramah, penuh pengertian, dan mendukung penuh kliennya. Untuk mendukung pembelajaran dibutuhkan SARD, yakni security (rasa aman), attention-agression(atensi-agresi), retention-reflection (retensi-refleksi), dan descrimination (deskriminasi). Dalam pendekatan ini kelas diajukan dalam kelompok kecil, yakni sekitar 6-12 orang.
2.      Respon Fisik Total (Total Physical Respon)
Pendekatan ini berakar pada pandangan bahwa asimilasi informasi dan keterampilan dapat ditingkatkan secara signifikan bila sistem sensori kinestetik dimanfaatkan secara optimal. Dalam pendekatan ini pembelajar harus membekali diri dengan keterampilan komprehensi dulu sebelum menguasai keterampilan produksi. Kelas dirancang dalam ukuran kelompok kecil, yakni 20-25 orang. Supaya sistem sensori kinestetik optimal, pembelajaran banyak dilakukan dalam bentuk perintah-perintah.
3.      Pendekatan Alamiah (Natural Approach/NA)
Pendekatan ini berpandangan bahwa penguasan bahasa lebih banyak bertumpu pada konteks yang alamiah dan bukan pada konteks yang formal ilmiah. Pendekatan ini juga berpandangan bahwa dalam pembelajaran bahasa yang utama ialah mencapai kompetensi komunikatif. Kesalahan tidak harus dihujat karena kesalahan merupakan proses dalam pembelajaran untuk menuju pada penguasaan bahasa yang baik. Model teoretis pendekatan alamiah bersandar pada lima hipotesis Krashen, yakni hipotesis pembelajaran-pemerolehan, hipotesis urutan alamiah, hipotesis monitor, hipotesis masukan, dan hipotesis filter afektif.
4.      Pendekatan Diam (Silent Way, SW)
Pendekatan diam berpandangan bahwa dalam pembelajaran bahasa selayaknya kita mengandlalkan kekuatan-dalam yang ada pada diri siswa. pembelajaran bahsa tidak harus dengan pengulangan ataupun imitasi. Penganut pendekatan ini juga yakin bahwa pembelajaran harus berpusat pada anak, bahkan sangat ekstrem, guru harus diam, anak yang harus berbicara dan bekerja keras. Dalam pendekatan diam diam ini guru dapat menggunakan media (1) seperangkat kayu dengan ukuran dan warna yang berbeda-beda; (2) beberan Fidel; (3) beberan dinding; (4) pita dan alat rekaman, film, transparansi, gambar; dan (5) teks dan buku cerita; dan (6) antologi.
5.      Sugestopedia
Pendekatan ini berlandaskan pada sugestologi, yakni konsep yang berpendapat bahwa manusia dapat diarahkan untuk melakukan sesuatu dengan diberikan sugesti kepadanya. Pikiran dibuat setenang-tenangnya, santai, dan terbuka sehingga merangsang saraf penerimaan otak pembelajar. Oleh sebab itu, dalam pelaksanaan pembelajaran dianjurkan pembelajar menggunakan musik pengiring yang selaras, yang tenang, seperti musik klasik Barat atau musik klasik Jawa. Juga dianjurkan untuk mencapai ketenangan itu dengan melakuakan yoga.

Teori Belajar Bahasa Indonesia


1.      Teori Disiplin Mental
Teori Disiplin Mental (Plato, Aristoteles) berpandangan bahwa dalam belajar, pembelajaran didisiplinkan atau dilatih. Perkembangan anak terjadi akibat proses pelatihan yang dilakukan terus menerus. Teori ini selanjutnya berkembang menjadi teori behavioristik. Belajar dapat berhasil apabila mental seseorang didisiplinkan melalui kebiasaan yang ketat. Seseorang pandai berperang karena memang didisiplinkan dalam berperang. Konsep pembiasaan amat berperan dalam teori tersebut.
Pembelajar berada dalam posisi pasif dalam penentuan program belajar. Yang aktif dalam penyusunan program belajar adalah guru. Siswa harus aktif mengikuti konsep pendisiplinan yang telah dirancang guru secara mekanistis. Secara mekanistis pula siswa mengalami perkembangan belajar.
Perkembangan belajar siswa tidak terjadi secara alamiah, tetapi terbentuk dan terpola oleh program pendisiplinan mental yang telah ditentukan oleh guru atau penanggung jawab program. Hafalan, pembiasaan, pengulangan, dan penekanan, merupakan hal teramat penting dalam teori belajar ini.
2.      Teori Pengembangan Alamiah
Setiap anak akan berkembang secara alamiah sehingga proses belajar pun berlangsung secara alamiah pula. Dalam perkembangannya anak akan mencapai tingkat kematangan untuk kemampuan-kemampuan tertentu. Anak akan mengalami proses belajar sesuai tingkat kematangannya.
Anak dipandang sebagai subjek yang berkembang sesuai dengan kematangannya. Belajar terjadi berdasarkan perkembangan itu sendiri. Aspek alamiah yang mendasarkan kualitas pribadi siswa menjadi orientasi utama dalam teori tersebut. Program belajar dikembangkan berdasarkan karanteristik dasar siswa.
3.      Teori Behavioristik
Kaum behavioris yakin bahwa belajar bahasa pada hakikatnya adalah masalah pembiasaan dan pembentukan kebiasaan. Dengan pola pikir bahwa dalam proses pembelajaran yang penting adalah stimulus dan respons dan adanya penguatan. Oleh sebab itu, dalam dunia pembelajaran bahasa teori itu melahirkan pendekatan audiolingual yang banyak memberikan pengulangan. Mereka yakin jika belajar bahasa itu dilakukan dengan pengulangan, maka kompetensi berbahasa itu akan dapat diperoleh.
4.      Teori Generatif (Kognitivisme dan Nativisme)
Kaum Nativis pada hakikatnya menafikan hadirnya hal-hal yang berbau mentalistik. Hal itulah yang kemudian banyak ditentang. Manusia bukanlah botol kosong yang dapat diisi semau-mau kita. Manusia adalah organisme yang mempunyai potensi-potensi. Kaum Nativis yakin bahwa anak sejak lahir sudah dikaruniai piranti pemerolehan bahasa (languange acquisition device) yang menurut McNeil berupa:
1.      kemampuan membedakan bunyi ujaran dengan bunyi yang lain dalam lingkungannya;
2.      kemampuan mengorganisasikan peristiwa bahasa ke dalam variasi yang beragam;
3.      pengertian adanya sistem bahasa tertentu yang mungkin dan sitem yang lain yang tidak mungkin;
4.      kemampuan untuk tetap mengevaluasi sistem perkembangan bahasa yang membentuk sistem yang mungkin dengan cara yang sederhana dari data kebahasaan yang diperoleh.
5.      Teori Humanistik/Teori Sosial
Proses belajar tidak hanya terjadi karena seseorang mendapatkan stimulus dari lingkungannya dan merseponnya tetapi terjadi pulan karena pelaku belajar berkomunikasi dnegan individu lainnya. Proses belajar terjadi karena komunikasi personal. Dalam diri pembelajar terjadi transaksi akibat komunikasi dua arah atau lebih yang masing-masing mkendapat kesempatan, baik selaku inisiator maupun merekasi komunikasi. Komunikasi itu dapat berlangsung secara akrab, intensif, dan mendalam.
Oleh karena itu, teori humanistik menjadi teori sosial, yang dikembangkan oleh Bandura. Dalam belajar berdasarkan teori sosial terdapat 4 fase yaitu:
1.      perhatian,
2.      retensi,
3.      reproduksi, dan
4.      motivasi.
Manusia akan belajar apa saja selama dia membutuhkan. Dia tidak peduli dengan kognitif yang aktual atau pengalamannya. Menurut Rogers, dalam konteks belajar yang diciptakan manusia akan belajar apa saja yang dia butuhkan. Konsep Roger tersebut saat ini memberikan perubahan besar bagi konsep pembelajaran yang bertumpu pada pembelajar. Pembelajaran itu sangat individual. Oleh karena itu, jika ingin berhasil dalam pembelajaran perhatikan kebutuhan individual dalam belajar.
6.      Teori Gestalt
Psikologi Gestald memandang unsur-unsur yang terlibat dalam proses belajar tidak terpisahkan tetapi merupakan totalitas dalam membentuk medan belajar. Oleh karena itu, Teori Gestald disebut pula dengan teori medan. Gestald berarti bentuk yang yang terdiri atas unsur-unsurnya. Beberapa unsur yang distrukturisasi dapat menghasilkan efek sinergis yang merupakan gestald. Teori ini dikembangkan oleh Lewin .
Menurut Lewin perubahan tingkah laku merupakan indikator hasil belajar. Diperoleh karena lingkungan yang disediakan difungsikan untuk memfasilitasi potensi internal yang terdapat dalam diri pembelajar. Lingkungan tidak secara langsung mengubah tingkah laku. Perpustakaan sekolah tidak akan berfungsi jika guru tidak memfungsikannya.

Analisis Kesalahan Berbahasa


Pengertian kesalahan, sumber dan penyebab kesalahan.
Makna kesalahan berbahasa bila dipandang dari sudut,
            *
guru, kesalahan berbahasa itu adalah suatu aib atau cacat cela bagi pengajaran bahasa,
             *siswa, menandakan bahwa pengajaran bahasa tidak berhasil atau gagal.
 Makna kesalahan berbahasa yang dijumpai dalam literatur analisis kesalahan berbahasa ialah kesalahan berbahasa itu hanya dikaitkan dengan kaidah bahasa atau tata bahasa saja, beda antara kesalahan berbahasa dengan kekeliruan berbahasa adalah kesalahan berbahasa disebabkan oleh faktor pemahaman, kemampuan kompetensi seseorang. Kekeliruan berbahasa terjadi karena lupa atau keliru dalam menerapkan kaidah bahasa, sifatnya tidakpermanen. Persamaannya adalah penyimpangan kaidah bahasa, sumber dan penyebab kesalahan berbahasa dalam pengajaran bahasa kedua maupun bahasa pertama terletak pada perbedaan sistem linguistik bahasa pertama dengan sistem linguistik bahasa kedua.
Analisis kesalahan berbahasa adalah suatu prosedur kerja yang biasa digunakan oleh peneliti atau guru bahasa, yang meliputi kegiatan mengumpulkan sampel kesalahan, mengidentifikasi kesalahan yang terdapat dalam sampel, menjelaskan kesalahan tersebut, mengklasifikasikan kesalahan itu dan mengevaluasi taraf keseriusan kesalahan itu.

4.1.1 Analisis Kesalahan belajar B2
Setiap permasalahan mempunyai ruang lingkup atau cakupan sendiri-sendiri. Demikian juga persoalan analisis kesalahan belajar B2. Untuk mengetahui ruang lingkup masing-masing, ikutilah penjelasan di bawah ini.
Ruang Lingkup Analisis Kesalahan
Anda pasti tahu bahwa setiap orang apakah dia orang tua, remaja, ataupun anak-anak, dalam kegiatan berkomunikasi lisan maupun tulis (menyimak, berbicara, membaca, dan menulis) setiap hari menggunakan bahasa. Dalam berkomunikasi dengan bahasa itu pasti membuat kesalahan. Kesalahan itu ada yang sistematis dan ada yang tidak sistematis. Dalam kaitannya dengan analisis kesalahan, yang disoroti adalah kesalahan yang bersifat sistematis. Kesalahan sistematis berarti kesalahan yang berhubungan dengan kompetensi. Kompetensi dalam pembicaraan ini adalah kemampuan pembicara atau penulis untuk melahirkan pikiran dan perasaannya melalui bahasa sesuai dengan kaidah bahasa yang berlaku. Bahasa yang digunakan itu berwujud kata, kalimat, dan makna yang mendukungnya. Kata dan kalimat berunsurkan bunyi-bunyi yang membedakan yang disebut fonem.
Memperhatikan penjelasan di atas, kesalahan yang perlu dianalisis mencakup tataran tata bunyi (fonologi), tata bentuk kata (morfologi) tata kalimat (sintaksis), dan tataran tata makna (semantik). Analisis kesalahan bidang tata bunyi berhubungan dengan kesalahan ujaran atau pelafalan, grafemik, pungtuasi, dan silabisasi. Analisis kesalahan dalam tata bentuk tentu saja kesalahan dalam membentuk kata terutarna pada afiksasi. Analisis kesalahan dalam bidang tata kalimat menyangkut urutan kata, kepaduan, susunan frase, kepaduan kalimat, dan logika kalimat. Dan yang berikutnya analisis kesalahan bidang semantik berkaitan dengan ketepatan penggunaan kata, frase atau kalimat yang didukung oleh makna baik makna gramatikal maupun makna leksikal.
Materi yang dibandingkan berhubungan dengan tata bunyi (fonologi), tata bentuk kata (morfologi), dan tata kalimat (sintaksis). Bidang tata bunyi berhubungan  dengan bunyi (fonem) dan pelafalannya. Bidang tata bentuk berhubungan dengan  imbuhan, kata dan pembentukannya. Bidang tata kalimat menyangkut urutan kata  dan frase dikaitkan dengan hukum-hukumnya (DM, MD). Untuk keperluan itu semua perlu adanya deskripsi yang jelas antara bahasa Bl dan B2.       
Objek analisis kesalahan adalah bahasa. Oleh sebab itu analisis kesalahan
dalam pembicaraan ini identik dengan analisis kesalahan berbahasa. Analisis kesalahan menitikberatkan analisisnya pada bahasa ragam formal. Seperti kita ketahui dilihat dari ragam pemakaiannya bahasa itu dibedakan atas bahasa ragam santai dan bahasa ragam formal. Bahasa ragam formal digunakan orang pada situasi formal seperti berpidato, berceramah, khotbah, berdiskusi, berseminar, berkongres, berkonferensi, bermusyawarah, dosen memberikan kuliah, guru mengajar di depan kelas, dan sebagainya yang jelas bahasa yang digunakan dalam situasi resmi.
Analisis kesalahan ditekankan pada proses belajar B2 (termasuk bahasa asing). Dengan demikian objek analisis kesalahan adalah bahasa siswa yang sedang mempelajari B2 atau bahasa asing. Objek yang lebih khusus lagi adalah kesalahan bahasa siswa yang bersifat sistematis dan menyangkut analisis kesalahan yang berhubungan dengan keterampilan berbahasa (menyimak, berbicara, membaca, dan menulis), tata bunyi, tata bentuk kata, tata kalimat, dan tata makna.
Sebagai seorang guru atau calon guru yang sedang berpraktik mengajarkan bahasa Indonesia, apabila diperhatikan dengan saksama, Anda akan menemukan kesalahan-kesalahan yang dibuat siswa. Kesalahan-kesalahan itu ternyata dapat Anda pilah dalam dua kategori, yaitu kategori kesalahan dalam bidang keterampilan dan kesalahan dalam bidang linguistik. Kesalahan yang berhubungan dengan keterampilan terjadi pada saat siswa menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Sedangkan kesalahan dalam bidang linguistik meliputi tata bunyi, tata bentuk kata, dan tata kalimat.
Temuan-temuan Anda ini sangat menarik dan segera diatasi agar proses belajar-mengajar berhasil dengan baik. Dengan demikian permasalahan yang ditangani analisis kesalahan berbahasa itu berkisar pada kesalahan dalam keterampilan berbahasa dan kesalahan dalam kebahasaan (linguistik).

4.1.2 Kebahasaan
         Kaitan antara pengajaran berbahasa, pemerolehan bahasa, kedwibahasaan, interferensi, dan kesalahan berbahasa.ssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssss
       1.  Pengajaran bahasa pertama dan pengajaran bahasa kedua ialah (1) pengajaran bahasa      pertama adalah pengajaran bersifat informal yang titik beratnya pada penguasaan bahasa ibu. (2) Sementara pengajaran bahasa kedua ialah kegiatan pemerolehan bahasa biasanya berlangsung melalui pengajaran bahasa yang bersifat formal yang berlangsung di sekolah, dapat juga berlangsung secara informal.aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
       2. Pemerolehan bahasa adalah pengajaran bahasa secara alamiah, tidak berencana, tidak disengaja dan tidak disadari. Contohnya anak kecil berumur satu tahun bisa berbicara seperti kakak-kakaknya atau orang tuanya dengan cara meniru dan mendengar.zzzzzzzzzzzzzzzzzz
      
3. Interferensi ialah terjadinya kekacauan pemakaian bahasa oleh dwibahasawan. Contohnya orang Dayak Ma’anyan tidak mengenal fonem /o/ sehingga dalam bahasa Indonesia sering terjadi kesalahan fonem /o/ diucapkan /u/.zzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz
      
4. Makna istilah dwibahasawan ialah orang menggunakan/menguasai dua bahasa atau lebih, sehingga saling mempengaruhi antara b1 dan b2. Contoh, bahasa Ma’anyan dan bahasa Indonesia (supir, bahasa Ma’anyan) (sopir, bahasa Indonesia).zzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz
      
5. Kesahan bahasa adalah transfer negatif yang menyebabkan timbulnya kesulitan dalam pengajaran b2 akibat dari sistem yang digunakan berlainan dalam penyampaiannya.
      
6. Kaitan antara pengajaran bahasa, pemerolehan bahasa, kedwibahasaan, interferensi dan kesahan bahasa oleh adanya umpan balik antara kelima unsur itu atau dengan kata lain semua unsur saling berhubungan dan saling berkaitan, sehingga merupakan satu kesatuan yang utuh.

4.1.3 Metodelogi (Langkah)
         Yang dimaksud dengan metodologi analisis kesalahan berbahasa adalah suatu prosedur atau langkah-langkah kerja analasis kesalahan berbahasa.
Langkah-langkah kerja analisis kesalahan berbahasa sebagai berikut :
(1) Mengumpulkan data kesalahan, maksudnya segala kesalahan yang terjadi di dalam proses   sssspembelajaran baik formal maupun nonformal perlu didata atau dicatat dan dikumpulkan.
 (2) Mengidentifikasi dan mengklasifikasikan kesalahan, kesalahan yang telah didata ssssdiidentifikasi kemudian diklasifikasikan sesuai tingkat keslahannya.
 (3) Mengurutkan kesalahan berdasarkan frekuinsinya, kesalahan itu dilihat dan diurutkan ssssberdasarkan tingkat keseringan terjadinya kesalahan.
 (4) Menjelaskan kesalahan, kesalahan yang terjadi setelah diurutkan dijelaskan sebab akibat ssssterjadinya keslahan.
 (5) Memprediksi tataran kebahasaan yang rawan kesalahan, memperkirakan bidang kebahasaan ssssmana yang sering terjadi kesalahan siswa.
 (6) Menagoreksi kesalahan, kesalahan yang ada dikoreksi atau diperiksa supaya dapat diambil aaaalangkah perbaikan selanjutnya.
         
Kesalahan-kesalahan berbahasa yang dibuat oleh siswa harus dicatat dengan teliti oleh guru karena berdasarkan hasil analisis kesalahan berbahasa tersebut dapat digunakan sebagai dasar dalam memperbaiki komponen proses belajar mengajar berbahasa berikutnya.
Data atau kesalahan berbahasa yang telah dibuat siswa diolah dengan cara:
(1) mengklasifikasikan jenis kesalahan,
(2) mengurutkan kesalahan berdasarkan frekuensinya,
(3) menggambarkan letak kesalahan dan memperkirakan penyebab kesalahan,
(4) memperkirakan atau memprediksi daerah atau butir kebahasaan yang rawan kesalahan,
(5) mengoreksi kesalahan atau memperbaiki kesalahan.


4.2 Klasifikasi Kesalahan
4.2.1 Klasifikasi  Penyimpangan Norma B2 (CORDER)
Corder (dalam Baraja, 1981:12) mengatakan bahwa analisis kesalahan itu mempunyai dua tujuan, yaitu tujuan teoretis dan tujuan praktis. Tujuan yang bersifat praktis tidak berbeda dengan tujuan analisis tradisional, sedangkan tujuan yang bersifat teoretis ialah adanya usaha untuk memahami proses belajar bahasa kedua. Bagi seorang guru, yang penting menemukan kesalahan itu kemudian menganalisisnya. Hasil analisis sangat berguna untuk tindak lanjut proses belajar-mengajar yang dilakukan.
Dengan memperhatikan tujuan di atas, seorang guru yang akan menerapkan analisis kesalahan tentu hams memiliki pengetahuan kebahasaan yang memadai. Dia harus paham benar tata bahasa yang baku dan berlaku. Misalnya tentang kebakuan pelafalari, tulisan (ejaan), bentukan kata, dan tata kalimatnya. Dalam hal ini guru dihadapkan pada dua persoalan, yaitu apa yang salah dan bagaimana memperbaikinya.